Lima Kontrak Gross Split Blok Terminasi 2020 Diteken Pekan Ini

Komitmen pasti dari lima blok itu mencapai US$ 292 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun.
Anggita Rezki Amelia
2 Juli 2018, 19:19
Migas
Dok. Chevron

 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penandatangan lima kontrak blok minyak dan gas bumi (migas) skema gross split bisa terlaksana pekan ini. Ini karena kontrak lima blok tersebut akan berakhir tahun 2020.

Lima blok migas itu yakni South Jambi B, Malacca Strait, Brantas, Kepala Burung Blok A dan Salawati. "Lima blok yang akan habis 2020 pekan ini signing. Jumat paling telat," kata Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar di Jakarta, Senin (2/7).

Saat ini masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan oleh kontraktor migas tersebut. Salah satunya adalah penyelesaian pembayaran bonus tanda tangan dan jaminan pelaksanaan atau performance bond.  

Advertisement

Komitmen pasti dari lima blok itu mencapai US$ 292 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun. Ini sesuai keputusan Kementerian ESDM awal Juni lalu.

Perinciannya, Blok Brantas US$ 115 juta, Malacca Strait US$ 45,75 juta, South Jambi B US$ 32,750juta, Kepala Burung Blok A US$ 61,72 juta, dan Blok Salawati US$ 36,25 juta. Adapun biaya komitmen kerja pasti itu sebagian besar akan dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi di blok-blok tersebut.

Blok South Jambi B diserahkan kepada PetroChina. Sebelumnya, perusahaan asal Tiongkok ini memiliki hak kelola 30%. Kemudian mitra lainnya adalah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) 25% dan ConocoPhillips 45%. Namun, PHE dan ConocoPhillips tidak mengajukan perpanjangan.

Bagi hasil gas untuk kontraktor di blok ini sebesar 53%, sisanya untuk pemerintah. Kemudian bonus tanda tangan ditetapkan US$ 5 juta.

Sementara itu Blok Malacca Strait dikelola Energi Mega Persada (EMP). EMP sebelumnya memiliki hak kelola 60,49% di dan bertindak sebagai operator. Hak kelola lainnya dipegang mitranya yakni OOGC Malacca Strait dengan hak kelola 32,58% dan Malacca Petroleum Ltd 6,93%.

Bagi hasil kontraktor untuk minyak di blok ini sebesar 59%, dan sisanya pemerintah. Sementara bagian gas bumi kontraktor di blok ini 64%, sisanya pemerintah. Di Blok ini bonus tanda tangan ditetapkan US$ 2,5 juta.

Blok Brantas diberikan ke Lapindo Brantas Inc. Sebelumnya perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini memegang hak kelola 50%. Mitranya yakni PT Prakarsa Brantas memiliki 32% dan Minarak Labuan Co, Ltd sebesar 18%.

Dalam kontrak baru Blok Brantas nanti, bagi hasil minyak di blok ini 47% untuk kontraktor, sisanya pemerintah. Sementara gas yang jadi bagian kontraktor kontraktor sebesar 52% sisanya untuk pemerintah. Bonus tanda tangan blok ini ditetapkan US$ 1 juta.

Blok Kepala burung Blok A nantinya dioperatori Petrogas dengan hak kelola 70%. Mereka akan bermitra dengan Pertamina yang memegang hak kelola 30%. Bagi hasil minyak untuk kontraktor di blok ini sebesar 48,5% sisanya pemerintah. Untuk gas bagi hasil kontraktor sebesar 53% sisanya pemerintah. Bonus tanda tangan blok ini ditetapkan US$ 1 juta.

Blok Salawati juga akan dikelola Petrogras dan Pertamina dengan hak kelola masing-masing 70% dan 30%. Bagi hasil kontraktor untuk minyak sebesar 48% sisanya pemerintah. Bonus tanda tangan blok ini ditetapkan US$ 1 juta.

(Baca: Komitmen Pasti Lima Blok Migas Terminasi 2020 Capai Rp 4,11 Triliun)

Sementara Blok Makassar Strait yang juga habis 2020 belum diputuskan nasibnya oleh pemerintah. Chevron selalu operator blok itu telah mengajukan perpanjangan kontrak di blok tersebut. kini kementerian ESDM masih mengevaluasi usulan perusahaan asal Amerika itu.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait