Arcandra: Biaya Proyek IDD Dipangkas Jadi Sekitar US$ 6 Miliar

Sebelum dipangkas, tingginya biaya Proyek IDD disebabkan pemilihan teknologi yang kurang pas.
Anggita Rezki Amelia
27 Juni 2018, 09:53
IPA 2017
Arief Kamaludin|Katadata
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memberikan tinjauan persoalan migas di stand pamer Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, (17/5).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim adanya pemangkasan biaya Proyek Ultra Laut Dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD) Gendalo-Gehem. Pemangkasan ini membuat biaya penggantian biaya operasional yang harus dibayar pemerintah (cost recovery) juga berkurang.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan pembahasan proyek IDD Gendalo-Gehem sudah dimulai sebelum puasa. Adapun puasa dimulai 17 Mei 2018. Pembahasan itu pun melibatkan induk Chevron yang berada di Houston, Amerika Serikat.  

Arcandra menyebutkan awalnya Chevron meminta US$ 12,8 miliar. Itu sesuai proposal yang diajukan pada tahun 2014. Namun, pemerintah tidak menyetujui usulan tersebut. Bahkan, saat Chevron mengajukan biaya sebesar US$ 9 miliar pada tahun 2016 pun ditolak pemerintah.

Menurut Arcandra, tingginya biaya Proyek IDD karena teknologi yang digunakan tidak pas. Akan tetapi, melalui beberapa pembahasan, bahkan sempat ke Amerika Serikat, pihak Chevron sepakat menurunkan biaya tersebut.

Advertisement

Arcandra mengklaim Chevron bersedia mengurangi biaya Proyek IDD Gendalo-Gehem menjadi sekitar US$ 6 miliar. Saat ini, proposal itu masih dalam tahap diskusi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). “Cuttting jadi sekitar US$ 6 miliar. Nanti saya lihat tanggal 28 Juni, benar atau tidak tidak janjinya segitu,” kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (26/6).

Pihak Chevron tidak membantah ataupun membenarkan nilai investasi tersebut. Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs Chevron Indonesia, Yanto Sianipar mengatakan studi dan konsep kelayakan pekerjaan keteknikan dan desain (pre-Front End Engineering and Design) proyek IDD yang telah dimulai pada Desember 2017 berjalan baik.

Dalam studi itu tidak menutup kemungkinan adanya pengurangan biaya. “Optimalisasi konsep pengembangan dan  penyederhanaan basis rancangan menghasilkan indikasi pengurangan biaya pengembangan dan operasional yang signifikan,” ujar Yanto kepada Katadata.co.id, Selasa (26/6).

Chevron sebenarnya sudah mendapatkan persetujuan pengembangan proyek IDD tahun 2008. Dalam proposal pengembangan (Plan of Development/PoD) nilai investasinya sekitar US$ 6,9 miliar hingga US$ 7 miliar.

Namun, proposal itu kemudian direvisi karena harga minyak naik. Perusahaan asal Amerika Serikat itu kemudian mengajukan angka US$ 12 miliar di tahun 2013. Sayangnya proposal itu belum disetujui pemerintah.

(Baca: Arcandra Beri Tenggat Chevron Ajukan Revisi PoD IDD Pekan Ini)

Akhir tahun 2015, Chevron kembali mengajukan revisi dengan nilai investasi US$ 9 miliar. Angka investasi itu dengan asumsi ada insentif investment credit di atas 100%. Proposal itu pun kembali ditolak Kementerian ESDM.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait