DPR Minta Pemerintah Tinjau Kembali Skema Kontrak Gross Split

Menurut Dirjen Migas, gross split masih menarik karena lelang blok migas tahun lalu ada peminat.
Anggita Rezki Amelia
4 April 2018, 21:38
Sumur Minyak
Chevron

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai menyoroti penerapan skema kontrak bagi hasil gross split. Ini karena skema kontrak baru itu dinilai dapat mengurangi minat investor berinvestasi di Indonesia.

Anggota Komisi VII DPR Kardaya Warnika mengatakan gross split hanya diminati perusahaan lokal, dalam hal ini PT Pertamina (Persero) dan PT Saka Energi Indoesia. Namun, tidak ada perusahaan internasional besar yang berminat terhadap skema yang tidak ada lagi cost recovery itu.

Menurut Kardaya, kontraktor migas berminat melakukan kegiatan pada suatu blok migas jika memakai kontrak cost recovery, sehingga ada penggantian biaya dari pemerintah. Sementara di kontrak gross split biaya sepenuhnya ditanggung kontraktor.

Dengan menanggung biaya sendiri, investor ini juga akan enggan melakukan kegiatan di blok eksplorasi. “Mereka tidak mau keluar duit. Jadi gross split perlu ditinjau,” kata dia di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/4).

Advertisement

Tak hanya Kardaya, Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani mengatakan skema gross split perlu didiskusikan lagi antara komisi VII, Kementerian ESDM, SKK Migas, dan kontraktor. Alsannya skema itu belum memicu investor untuk masuk berinvestasi di Indonesia. "Menurut saya juga pemerintah jangan malu mengatakan kalau skema ini gagal," kata dia.

Namun, Direktur Jenderal Migas Djoko Siswanto memiliki pendapat yang berbeda dengan kedua anggota Komisi VII tersebut. Menurutnya, gross split sudah diminati investor. Buktinya, lelang blok migas tahun lalu yang berhasil mendapatkan lima pemenang.

Bahkan lelang 26 blok migas tahun ini juga diikuti oleh perusahaan besar dan asing. "Salah satunya Eni," kata Djoko.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan saat ini memang baru Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang menggunakan skema gross split. Namun, sejak menggunakan skema kontrak baru itu, blok yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi ini menunjukan kinerja yang baik.

Setidaknya ada beberapa catatan positif di Blok ONWJ, seperti berhasil mempertahankan produksi dari penurunan secara alamiah yang terjadi pada periode 2014-2016. Investasi ONWJ tahun ini juga daripada sebelumnya.

Tahun ini PHE menggelontorkan dana sebesar US$513 juta untuk biaya investasi dan biaya operasional di ONWJ. Sementara tahun lalu alokasinya hanya US$$ 347 juta. 

(Baca: Dua Bulan Terakhir, Investasi Hulu Migas Hanya 15% dari Target)

Namun, menurut Amien, skema gross split belum bisa dinilai secara komprehensif, karena baru diterapkan di blok ONWJ. "Kini belum bisa dinilai secara komprehensif bagaimana gross split bekerja," kata dia.

Amien mengatakan ke depan akan semakin banyak kontraktor yang menggunakan gross split. Hingga 2027, blok migas yang akan memakai gross split akan mencapai 37, sementara 49 blok migas lainnya masih memakai cost recovery.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait