Kilang Tri Wahana Universal Berhenti Beroperasi

Arnold Sirait
1 April 2018, 13:36
Kilang mini
Katadata
ilustrasi

Kilang minyak milik PT Tri Wahana Universal (TWU) yang terletak di Desa Sumengko, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini berhenti beroperasi. Alasannya adalah kenaikan harga bahan baku berupa minyak mentah yang menyebabkan keekonomian kilang.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harya Adityawarman mengatakan kilang itu berhenti beroperasi sejak 31 Januari 2018. “Karena ada kenaikan crude price sehingga dari perhitungan TWU tidak ekonomis,” kata dia kepada Katadata.co.id, Minggu (1/4).

Tahun lalu, pemerintah memang mengubah harga minyak dari Lapangan Banyu Urip melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 4028 K/12/MEM/2017. Keputusan yang berlaku 21 November 2017 itu menyebutkan formula minyak mentah Banyu Urip adalah ICP Arjuna plus US$5,50 per bareI pada titik serah fasilitas di penampungan terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) Gagak Rimang.

Sebelum aturan ini berlaku, Kementerian ESDM sebenarnya sudah menentukan formula sementara. Ini tertuang dalam  Kepmen ESDM Nomor 168.K/12/DJM.B/2016 tentang Penetapan Formula Harga Minyak Mentah Indonesia Sementara Untuk Jenis Minyak Mentah Banyu Urip.

Aturan yang ditetapkan 23 Juni 2016 itu menyebutkan harga minyak mentah Banyu Urip di titik serah FSO Gagak Rimang sebesar ICP Arjuna dikurangi US$ 0,50 per barel. Harga tersebut digunakan Perusahaan dalam Perjanjian Jual Beli Minyak dengan Pertamina dan PT Tri Wahana Universal (TWU). Jadi tidak ada lagi penjualan dari titik serah fasilitas produksi awal (Early Production Facility/EPF).

(Baca: Kementerian ESDM Tetapkan Formula Baru Minyak Banyu Urip)

Adapun pasokan bahan baku kilang TWU berasal dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Blok tersebut dioperatori ExxonMobil, melalui anak usahanya yakni ExxonMobil Cepu Limited yang mewakili para mitra. Perusahaan asal Amerika Serikat itu memiliki hak kelola 45%.

Selain Exxon ada PT Pertamina (Persero) yang memiliki 45% hak kelola di Lapangan Banyu Urip. Sisanya sebesar 10% dimiliki secara kolektif oleh empat perusahaan milik daerah (secara kolektif disebut Badan Kerja Sama/BKS).

Kilang TWU memiliki dua train. Train pertama dibangun tahun 2018 dengan kapasitas enam ribu barel per hari di Bojonegoro. Kemudian tahun 2011 membangun train kedua yang berkapasitas 12 ribu bph. Namun 2014, TWU menaikkan kapasitas produksi train II sampai dengan 18 ribu bph.

Kilang yang berdiri di lahanseluas 7,2 hektare (ha) dengan jarak 7 kilo meter (km) dari sumur minyak Lapangan Banyu Urip ini memproduksi beberapa varian. Produk tersebut adalah High Speed Diesel (HSD), Straight Run Gasoline (SRG), VTB/LSWR oil, Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO) dan Parafin.

Sementara itu, manajemen TWU hingga kini belum berkomentar mengenai penghentian operasi kilang minyak tersebut. Hingga berita diturunkan, Chief Executive Officer (CEO) dan Founder Rudy Tavinos belum membalas pesan yang dikirimkan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait