Cerita Kepala SKK Migas Soal Rawannya Praktik Suap di Sektor Hulu

SKK Migas sudah menerapkan sistem manajemen anti suap untuk mengatasi tindak korupsi.
Anggita Rezki Amelia
27 Maret 2018, 18:49
SKK Migas
Arief Kamaludin|KATADATA
SKK Migas

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengungkap betapa rawannya sektor hulu terhadap praktik suap. Untuk itu perlu adanya sistem manajemen anti suap di instansinya.

Dalam “Seminar Sistem Manajemen Anti Penyuapan di Sektor Hulu Migas”, Amien mengatakan rentannya instansi itu terhadap suap bisa dilihat dari beberapa kasus yang pernah terjadi. “Historis menunjukkan Kepala SKK Migas sebelum saya pun ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terima suap,” kata dia di Jakarta, Selasa (27/3).  

Seperti diketahui, mantan Kepala SKK Migas Rubi Rubiandini terjerat kasus suap terkait tender minyak mentah dan kondensat bagian negara. Rudi juga dijerat karena menerima uang dari PT Kaltim Parna Industri agar memberikan rekomendasi atau persetujuan menurunkan formula harga gas.

Tak hanya itu, SKK Migas juga pernah terseret kasus dugaan korupsi penjualan kondensat oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Berdasarkan hitungan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), negara rugi US$ 2,7 miliar atas kasus tersebut.

Advertisement

Semua praktik suap yang pernah terjadi di hulu migas itu membuat harga proyek melambung. "Dulu di dunia hulu migas harganya mahal karena ada uang yang dibagi-bagi itu tidak hanya di Indonesia," kata dia, di Jakarta, Selasa (27/3).

Celah praktik suap juga terjadi ketika Amien menjabat sebagai Kepala SKK Migas. Bahkan ada sebuah vendor yang gagal menang tender berusaha menghubungi para pekerja SKK Migas. Para vendor ini juga sudah dikategorikan oleh SKK Migas.

Salah satu vendor yang ditindak SKK Migas adalah PT Huabei Petroleum Services. Mereka dikeluarkan dari daftar vendor yang boleh mengikuti lelang barang dan jasa di SKK Migas karena tidak mau diaudit. Jadi jika ada kontraktor yang menggunakan jasa mereka, biaya yang sudah dikeluarkan tidak akan diganti pemerintah (cost recovery).

Amien juga tidak menutup mata jika di dalam instansinya ada karyawan “nakal” yang mau terlibat praktik suap. "Di SKK Migas pun ada yang jelek, yang jelek-jelek ini kita identifikasi, dan kita suruh pergi saja," kata dia.

Selain itu, praktik suap juga menjadi sorotan para pelaku industri hulu migas yang menghadiri seminar tersebut. Roni Siahaan yang merupakan karyawan PT Medco Energi Internasional Tbk bahkan sempat menanyakan upaya SKK Migas agar tidak terlibat suap.

Amien pun menanggapi pertanyaan itu kalau instansinya sudah melakukan beberapa perubahan di internal. "Kami sudah janji sama IPA mau ngomong soal ini, semoga ketemu jalan agar bisa lakukan semua dengan baik," kata dia.

Pertanyaan lain juga datang dari Zainal dari Petronas.  Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat praktik suap kerap terjadi, diantaranya karena ada tekanan dari pihak tertentu dan kesempatan. "Bagaimana memastikan tekanan ini tidak terjadi? karena suap ini penyakit. Misalnya ada oknum SKK Migas menekan KKKS sehingga terjadi suap," kata Zainal.

Mendengar pertanyaan, Amien yang menjadi penanggung jawab  menyatakan tidak tinggal diam jika ada karyawan SKK Migas yang melakukan hal itu. "Pak Moeldoko juga bilang ke saya, kalau ada tekanan lapor ke saya," kata dia.

Agar praktik suap ini tidak terjadi lagi, SKK Migas juga menerapkan sistem manajemen anti suap atau yang lebih dikenal ISO 37001:2016. Sistem ini telah diterapkan di SKK Migas sejak pertengahan tahun lalu.

(Baca: Manajemen Suap Diterapkan, Investasi Hulu Migas Jadi Lebih Menarik)

Amien pun optimistis adanya penerapan manajemen itu dapat mencegah perbuatan korupsi baik di internal SKK Migas, KKKS, hingga vendor. "Ini akan menjadikan dunia migas indonesia lebih menarik bagi investor, tentu diharapkan investasi di hulu migas lebih meningkat," kata dia.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait