Arcandra: Bangun Kilang Minyak Lebih Efisien Daripada Impor BBM

Selisih antara mengimpor dengan memproduksi di dalam negeri bisa mencapai US$ 3 juta per hari.
Anggita Rezki Amelia
26 Maret 2018, 12:34
Kilang Minyak
KATADATA

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM Arcandra Tahar menilai membangun kilang minyak di dalam negeri lebih murah dan efisien daripada impor. Untuk itu, pemerintah berkomitmen menyelesaikan proyek modifikasi kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) dan pembangunan kilang baru.

Menurut Arcandra saat ini, ada kekurangan pasokan produk olahan minyak sebesar 900 ribu barel per hari/bph. Ini karena kebutuhan masyarakat bisa mencapai 1,6 juta hingga 1,7 juta bph.

Kekurangan itu bisa diatasi dengan cara mengimpor atau membangun dan memodifikasi kilang yang ada. Namun, saat ini ada perbedaan atau selisih sekitar 5% antara mengimpor produk olahan dan memproduksi di dalam negeri.

Jadi, kalau dihitung dari harga produk Bahan Bakar Minyak beroktan (RON) 92 di kisaran USD 72-74 per barel, maka selisihnya sekitar US$ 3,5 per barel. Itu jika dihitung sehari bisa mencapai US$ 3 juta, atau sekitar US$1 miliar setahun. “Jadi, kalau mau bikin kilang atau impor, ya (pilih) kilang," ujar Arcandra dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Senin (26/3).

Advertisement

Arcandra juga menyatakan kilang masuk kategori bisnis ‘blue ocean’ bukan ‘red ocean’. Artinya pembangunan kilang di dalam negeri tidak akan mengganggu negara lain. Ini karena produk kilang itu untuk kebutuhan dalam negeri dan ketahanan energi domestik.

Atas dasar itu, Pemerintah melalui Kementerian ESDM saat ini memiliki komitmen dalam pembangunan kilang ini. "Kami kerjakan RDMP yaitu meremajakan kilang-kilang eksisting di Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai. Kami juga bangun 2 kilang baru di Tuban dan Bontang," ujar Arcandra.

(Baca: Proyek Belum Rampung, Kapasitas Kilang Minyak 3 Tahun Terakhir Statis)

Adapun, proyek modifikasi kilang minyak di Cilacap akan beroperasi akhir tahun ini. Sedangkan kilang minyak di Balikpapan masih dalam tender perekayasaan, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement, and Construction/EPC).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait