Pemerintah Upayakan Harga Premium dan Solar Tak Naik hingga 2019

Salah satu alasan tidak menaikkan harga Solar dan Premium adalah daya beli masyarakat.
Anggita Rezki Amelia
27 Februari 2018, 11:26
isi bbm
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengupayakan agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan Premium tidak naik hingga 2019. Kebijakan itu untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan tren harga minyak dunia yang dalam tren meningkat bisa mempengaruhi harga BBM. Selain itu akan “memukul” subsidi untuk BBM. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, subsidi Solar dipatok Rp 500 per liter.

Per Selasa (27/2), harga minyak dunia jenis WTI telah menyentuh US$ 63,91 per barel untuk kontrak April 2018. Sedangkan harga Brent mencapai US$ 67,53 per barel untuk periode kontrak yang sama.

Adapun harga minyak Indonesia (ICP) bulan lalu juga meningkat. Januari 2018, ICP telah menyentuh level US$ 65,59 per barel. Capaian ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015. Padahal APBN 2018, ICP hanya US$ 48 per barel.

Advertisement

Namun, pemerintah juga tentu memiliki pertimbangan lain untuk menetapkan harga BBM, terutama daya beli. "Kami usahakan kalau bisa tidak naik," kata Ego di Jakarta, Senin (27/2).

Saat ini harga Premium sebesar Rp 6.450 per liter dan Solar sebesar Rp 5.150 per liter. Sementara harga jual minyak tanah Rp 2.500 per liter.

Sementara itu, Ego mengatakan pemerintah juga menyiapkan langkah apa saja yang akan diambil agar harga BBM tidak naik. Sayangnya, langkah itu belum bisa dipublikasikan. :Sedang dipikirkan juga, banyak lah," kata dia.

Kebijakan harga BBM ini juga akan berdampak bagi PT Pertamina (Persero). Tahun lalu, laba perusahaan pelat merah itu turun 24 persen menjadi US$ 3,15 miliar akibat harga Solar dan Premium yang tidak berubah di tengah harga minyak dunia yang naik tahun lalu.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan penyesuaian harga BBM, sehingga laba Pertamina tertekan. Padahal, perusahaannya sudah berupaya melakukan penghematan hingga 26 persen sepanjang tahun lalu. 

(Baca: Harga Pertamax Sejak Awal Tahun Sudah Naik Rp 500)

"Belum ada kebijakan penyesuaian harga premium solar sampai dengan kuartal 1 2018 ini. Ini berimbas pada penurunan laba bersih perusahaan sebesar 24 persen dibandingkan 2016," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat/RDP di Komisi VI DPR, Jakarta, Senin (29/1). 

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait