Keputusan Operator Delapan Blok Migas di Tangan Pertamina

Menurut Ego Syahrial, Pertamina bisa saja memutuskan tidak menjadi operator.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
22 Februari 2018, 07:00
Ambil Alih Lapangan Migas Blok Mahakam
Arief Kamaludin|KATADATA
Pekerja beraktifitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indones

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM memberikan keleluasaan bagi PT Pertamina (Persero) untuk mengelola delapan blok yang akan berakhir kontraknya. Salah satu keleluasaan yang diberikan adalah penentuan operator.

Jadi, menurut Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi/Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan Pertamina bisa menentukan siapa yang menjadi operator di blok tersebut. “Suka-suka Pertamina. Bisa saja mereka tidak mau jadi operator karena sibuk," kata dia di Jakarta, Rabu (21/2).

Keleluasaan lainnya adalah mengenai penentuan mitra. Jadi, perusahaan pelat merah itu yang memilih mitra untuk mengelola delapan blok tersebut, bisa yang sudah pernah ada di blok itu atau baru. Pembagian besaran hak kelolanya pun sesuai dengan proses bisnis yang wajar (business to business/ b to b).

Namun, untuk memutuskan pengelolaan delapan blok tersebut, Ego masih menunggu surat balasan dari PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, Kementerian ESDM mengirimkan surat kepada Pertamina mengenai syarat dan ketentuan dalam kontrak tersebut, termasuk bonus tanda tangan dan mitra.

Kementerian ESDM memberi waktu 30 hari kepada Pertamina untuk membalas surat tersebut hingga pertengahan Maret 2018. "Begitu Pertamina memberikan jawaban, idealnya seminggu setelahnya kami tanda tangan kontrak," kata dia.

Pemerintah menginginkan jumlah bonus tanda tangan yang diberikan Pertamina itu lebih besar dari ketika blok itu ditanda tangani. Apalagi delapan blok ini sudah berproduksi.

Sayangnya, Ego tidak menyebut besaran angka tersebut. "Kalau kemarin kan rata-rata US$ 500 ribu, sekarang bisa US$ 10 juta, " kata dia.

Untuk itu sebagai antisipasi sembari menunggu respon dari Pertamina, Kementerian ESDM juga akan memperpanjang kontrak Blok Ogan Komering dan Tuban. Blok Ogan Komering dan Tuban merupakan dua blok yang akan berakhir kontrak pada 28 Februari 2018. Dua blok ini masuk dalam delapan blok migas yang ditugaskan ke Pertamina. Sisanya adalah Sanga-sanga, Attaka, East Kalimantan, South East Sumatera (SES), North Sumatera Offshore (NSO), dan Tengah.

(Baca: Membedah Delapan Blok Migas yang Akan Mendongkrak Aset Pertamina)

Sementara itu ditemui terpisah, Direktur Keuangan Pertamina Arif Budiman belum mau berkomentar banyak mengenai respon Pertamina terkait delapan wilayah kerja tersebut. "Delapan wilayah kerja ke Syamsu Alam (Direktur Hulu Pertamina)," ujar dia.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Video Pilihan

Artikel Terkait