Meneropong Arah Pertamina Setelah Restrukturisasi

Fokus Pertamina saat ini adalah memperkuat fungsi hilir secara sumber daya manusia, sistem, dan infrastruktur.
Anggita Rezki Amelia
17 Februari 2018, 07:00
No image
Kantor pusat PT Pertamina, Jakarta.

Internal PT Pertamina (Persero) sempat dibuat kaget dengan pemberitaan media beberapa hari terakhir. Mereka terperangah mengetahui salah satu hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Selasa, 13 Februari 2018 yaitu membubarkan Direktorat Gas. Keputusan itu sekaligus memberhentikan Yenni Andayani sebagai Direktur Gas.  

Tak hanya pembubaran Direktorat Gas, RUPS itu juga memecah Direktorat Pemasaran menjadi Direktorat Pemasaran Korporat dan Direktorat Ritel yang saat ini dirangkap Muchamad Iskandar. Selain itu, rapat tersebut memutuskan pembentukan Direktorat Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur yang dijabat Nicke Widyawati, merangkap Direktur Sumber Daya Manusia (SDM).

Berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata, memang secara umum internal Pertamina kaget, tapi tidak berujung pada kepanikan. Apalagi, jajaran direksi langsung memberikan arahan atas hasil RUPS itu.

Sehari setelah RUPS berlangsung, jajaran direksi dan komisaris mengadakan rapat. Hasilnya, keputusan RUPS masih perlu kajian untuk diimplementasikan. Namun, untuk menjaga kelancaran operasi perusahaan, ada masa transisi.

Advertisement

Masa transisi itu terdiri dari empat poin. Pertama, seluruh fungsi dan kegiatan usaha yang sebelumnya ada di Direktorat Gas akan dipimpin dan dikoordinir Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Gigih Prakoso.

Kedua, seluruh fungsi dan kegiatan usaha yang dulunya ada Direktorat Pemasaran dipimpin dan dikoordinir oleh Direktur Pemasaran Korporat. Saat ini dipimpin oleh Muchamad Iskandar.

Ketiga, Direktorat Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur akan berfungsi secara aktif setelah kajian ditetapkan. Keempat, fungsi lain yang tidak terpengaruh dengan butir pertama dan kedua di atas, maka tetap menjalankan kegiatan seperti biasa.

Kelangkaan BBM Hingga Rencana Holding Jadi Alasan

Perombakan direksi ini diklaim tidak terjadi secara “simsalabim”. Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Fajar Harry Sampurno mengatakan perombakan struktur direksi itu sudah melalui kajian yang cukup lama.

Salah satu latar belakang keputusan itu diambil adalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Elpiji. Dengan adanya Direktorat Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur, harapannya, pasokan kedua komoditas tersebut bisa lancar. Adapun tujuan membagi dua Direktorat Pemasaran agar ke depan perusahaan lebih berorientasi pada konsumen, bukan lagi produk.

Sedangkan alasan pembubaran Direktorat Gas tidak terlepas dari rencana pembentukan induk usaha (holding). Jadi, ketika holding terbentuk, bisnis gas akan dipegang sub-holding yang dipimpin PT Perusahaan Gas Negara/PGN (Persero) Tbk. “Makanya Direktorat Gas hilang,” kata dia Selasa (13/2).  

Sumber Katadata.co.id juga menyebutkan meski nantinya bisnis gas beralih ke PGN, itu tidak akan berpengaruh ke Pertamina. Apalagi, PGN akan menjadi anak usaha Pertamina setelah holding. Jadi tidak ada kompetisi dengan BUMN lain.

Perombakan ini juga mempertimbangkan fungsi Pertamina. Yang menjadi,fokus Pertamina saat ini adalah memperkuat fungsi hilir, baik secara sumber daya manusia, sistem dan infrastruktur. Alasannya hilir terkait langsung dengan masyarakat dan sangat sensitif. 

Sensitivitas ini terlihat jika ada kelangkaan BBM atau elpiji di suatu tempat, masyarakat akan langsung bereaksi. Reaksi masyarakat ini berbeda ketika produksi migas di satu sumur Pertamina turun.

Lagipula, fungsi hulu sudah bisa diturunkan ke anak usahanya seperti PT Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi dan yang terbaru PT Pertamina Hulu Indonesia. ”Hilir tidak bisa karena masih ada komponen subsidi dan ada penugasan pemerintah,” ujar sumber tersebut. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait