Negosiasi Pertamina dan Total-Inpex di Blok Mahakam Stagnan

"Belum ada update mengenai Mahakam,"Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam.
Anggita Rezki Amelia
18 Januari 2018, 20:33
Ambil Alih Lapangan Migas Blok Mahakam
Arief Kamaludin|KATADATA
Pekerja sedang beraktifitas pada North Processing Unit (NPU) wilayah kerja Blok Mahakam di Kutai Kartanegara, Minggu (31/12).

Negosiasi antara PT Pertamina (Persero) dan Total E&P Indonesie bersama Inpex Corporation mengenai hak kelola blok Mahakam belum mencapai titik temu. Negosiasi itu belum ada perkembangan yang signifikan meski Pertamina sudah menjadi pengelola blok penyumbang produksi siap jual (lifting) gas bumi terbesar tersebut.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan negosiasi bisnis dengan Total dan Inpex selaku operator lama hingga kini belum selesai. "Belum ada update mengenai Mahakam," kata dia di Jakarta, Kamis (18/1).  

Sejak 1 Januari 2018, PT Pertamina (Persero) memang telah memegang hak kelola 100% dan menjadi operator di blok Mahakam. Meski begitu, pemerintah juga memberikan kesempatan kepada Total dan Inpex untuk tetap bisa memiliki hak kelola di blok tersebut. Alasannya untuk menjaga produksi.

Saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijabat Sudirman Saiid, kedua kontraktor hanya bisa mendapatkan hak kelola maksimal 30%. Namun, Menteri ESDM Ignasius Jonan menambah jatah Total dan Inpex menjadi 39%.

Advertisement

Keputusan penambahan hak kelola itu berdasarkan surat resmi yang disampaikan melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Meski begitu mekanismenya melalui proses bisnis biasa.

Tahun ini, Pertamina menyiapkan anggaran US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 23 triliun untuk mengelola blok Mahakam mulai tahun depan. Dana tersebut salah satunya akan digunakan Pertamina untuk mengebor sumur di Mahakam tahun depan demi menjaga produksi blok tersebut.

Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Bambang Manumayoso pernah mengatakan biaya sebesar US$ 1,7 miliar itu terdiri biaya investasi sebesar US$ 700 juta dan biaya operasional US$ 1 miliar. Ada sejumlah kegiatan yang akan dilakukan Pertamina tahun depan, di antaranya untuk menambah sumur pengembangan dari 55 sumur menjadi 65 sumur.

(Baca: Jaga Produksi Blok Mahakam, Pertamina Siap Kucurkan Rp 9,4 Triliun)

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tahun 2018, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menargetkan bisa memproduksi gas sekitar 1.100 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Sedangkan minyak dan kondensat sebesar 48 ribu barel per hari (bph).

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait