Badan Geologi Turunkan Radius Aman Gunung Agung Jadi 6 Kilometer

Meski radius aman sudah diturunkan, status Gunung Agung masih tetap awas.
Anggita Rezki Amelia
4 Januari 2018, 13:09
Erupsi Gunung Agung
ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Seorang warga beraktivitas di ladangnya saat terjadi asap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung di Desa Datah, Karangasem, Bali, Senin (27/11). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status Gunung Agung dari level siaga ke a

Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status radius aman Gunung Agung di Bali. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil analisis data visual maupun instrumental meliputi seismik, deformasi, dan geokimia. 

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan radius aman Gunung saat ini adalah 6 kilometer (km) dari puncak. Sebelumnya berkisar 8 hingga 10 km. "Sekarang boleh dihuni jarak 6 km dari kawah," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta (4/1).
 
Meski radius aman sudah diturunkan, status Gunung Agung masih tetap awas. Ini karena Gunung agung masih dalam fase erupsi dan masih memiliki dampak pada pemukiman penduduk.
 
Jadi pemerintah terus memonitor aktivitas gunung Agung selama 24 jam.  "Saya tidak tahu ke depan seperti apa. Kami monitoring  setiap hari, semoga ini bisa terus berkurang," kata Jonan. 
 
Di tempat yang sama, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengatakan ada beberapa alasan menurunkan radius aman Gunung Agung menjadi 6 km. Pertama, volume lava di dalam kawah saat ini sekitar 20 juta meter kubik atau sekitar sepertiga dari total volume kawah sebesar 60 juta meter kubik.
 
Dengan keadaan tersebut, laju pertumbuhan kubah saat ini rendah. Sehingga untuk memenuhi volume kawah dalam waktu singkat kemungkinannya kecil.
 
Kedua, jumlah kegempaan dengan konten frekuensi tinggi dan rendah hingga kini masih terus terekam. Aktivitas gempa ini masih mengindikasikan adanya tekanan dan aliran magma dari kedalaman hingga ke permukaan. Namun, energi gempa itu belum menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. 
 
Ketiga, data deformasi dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan tren yang stagnan. Hal tersebut mengindikasikan belum ada peningkatan pada sumber tekanan di dalam Gunung Agung.
 
Keempat, dengan skala erupsi saat ini yang masih intemittent (sesaat), potensi bahaya awan panas masih relatif kecil karena selain pertumbuhan lava yang melambat untuk memenuhi isi kawah. Untuk mendobrak kubah lava menjadi awan panas dibutuhkan pembangunan tekanan yang cukup besar. Sementara  pembangunan tekanan hingga hari ini belum menunjukkan pola peningkatan yang signifikan.
 
"Dengan alasan itu maka daerah radius aman kami ciutkan. Ini kondisi gunung agung masih dinamis, tergantung hasil monitor dari instrumen yang dipasang di sana," kata Rudy.
 
Di sisi lain, Rudy mengatakan berdasarkan data geokimia Gunung Agung terakhir, masih adanya gas magmatik Sulfu dioksida (SO2) dengan flux sekitar 100-300 ton per hari. SO2 merupakan salah satu komponen yang ada dalam gas vulkanik yang dimonitor emisinya untuk memantau aktivitas suatu gunung api. Dengan masih adanya gas magmatik itu, maka bau kawah gunung berapi masih bisa tercium di masyarakat.
 
Alhasil, masyarakat, khususnya yang berada di dalam radius 6 Km dari kawah agar tetap waspada, terutama terhadap potensi-potensi bahaya seperti lontaran batu pijar, pasir, kerikil dan hujan abu pekat serta lahar hujan. Pontesi bahaya tersebut diperkirakan bisa melanda area di dalam radius 6 km.
 
 
Selain itu, bahaya lahar hujan akan mengikuti lembah sungai yang berhulu dari Gunung Agung. Potensi bahaya ini tergantung debit air maupun volume material erupsi. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait