Pemerintah Harap 4 Kerja Sama Migas dengan Arab Saudi Terealisasi

Empat hal kerja sama yang dibicarakan Arcandra sama dengan ketika Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud berkunjung ke Indonesia pada Februari 2017.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
30 Oktober 2017, 19:38
Migas
Dok. Chevron

Pemerintah kembali berharap empat kerja sama yang sudah disampaikan dengan Arab Saudi bisa terealisasi. Ini sesuai dengan hasil pertemuan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar dengan CEO of Saudi Fund for Development, H.E Al Khateeb dan Penasihat Senior Menteri Industri, Energi dan Mineral Arab Saudi, Dr Nasser A Al-Dossary, Rabu (25/10).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan salah satu pembahasan dalam pertemuan itu mengenai harga minyak yang diimpor Indonesia. “Pemerintah Arab Saudi diharapkan dapat memberikan harga impor minyak mentah (Arab Light) lebih rendah dari Saudir Aramco ke Pertamina,” kata dia berdasarkan siaran resminya yang  diterima Katadata, Senin (30/10).

Selain itu, pemerintah Arab Saudi juga diharapkan dapat membantu PT Pertamina (Persero) dapat membeli langsung elpiji dari Saudi Aramco. Ini karena 13% dari total kebutuhan elpiji Pertamina dipasok dari Aramco. Adapun total kebutuhan elpiji mencapai 6 juta ton per tahun.

Pembahasan lain dalam pertemuan itu adalah mengenai proyek kilang. Pemerintah Indonesia mendorong agar Saudi Aramco mempercepat penyelesaian proyek peningkatan kapasitas Kilang Cilacap. Di proyek ini Arab Saudi memiliki hak kelola 45% dan sisanya Pertamina. Awalnya kilang ini ditargetkan bisa produksi lebih cepat pada 2021, namun mundur menjadi 2023.

Pemerintah Indonesia juga ingin memperluas pangsa pasar penjualan Avtur. Alhasil menurut Dadan, pemerintah  berharap Arab Saudi dapat memberikan penerbitan izin usaha avtur refuelling di bandara Jeddah untuk Pertamina.

Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi juga bersepakat membentuk Joint Commission Ministry Level. “Untuk menindaklanjuti seluruh bentuk kerja sama yang belum terlaksana. Hal ini untuk mempercepat realisasi investasi ke Indonesia,” ujar Dadan.

Permintaan ini sebenarnya bukan hal baru. Ketika Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud berkunjung ke Indonesia pada Februari 2017, harapan kerja sama ini pernah disampaikan.

(Baca: Raja Salman Datang, Indonesia Incar Empat Kerja Sama Migas)

Saat itu, Kementerian ESDM juga meminta harga minyak jenis Arabian Light Crude lebih murah. Kemudian, kemudahan impor elpiji langsung dari Saudi Aramco. Ada juga percepatan proyek kilang Cilacap. Terakhir adalah keinginan agar Pertamina bisa memasok avtur di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi.

Video Pilihan

Artikel Terkait