Harga Premium dan Solar Tidak Berubah Hingga Akhir Tahun

“Harga BBM tidak ada perubahan. Kalau dinaikkan kasihan masyarakat kecil," kata Ego.
Anggita Rezki Amelia
27 September 2017, 17:50
BBM
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium dan Solar tidak mengalami perubahan untuk tiga bulan ke depan. Alasannya untuk melindungi masyarakat.

Dengan kebijakan itu maka harga jual eceran Solar sebesar Rp 5.150 per liter. Adapun Premium non Jamali (Jawa-Madura-Bali) sebesar Rp 6.450 per liter.  

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan saat ini harga minyak yang menjadi acuan BBM memang mulai meningkat. Rata-rata harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) Agustus lalu sebesar US$ 48,43 per barel. Ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 45,48 per barel.  

Namun menurut Ego kenaikkan itu belum signifikan. Sementara di sisi lain, pemerintah juga terus menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Hal ini lah yang menjadi alasan pemerintah tidak mengubah harga Solar dan Premium periode Oktober-Desember. “Harga BBM tidak ada perubahan. Kalau dinaikkan kasihan masyarakat kecil," kata Ego.

Ego tidak menampik, penetapan harga BBM ini akan mempengaruhi kondisi keuangan PT Pertamina (Persero). Akan tetapi itu hanya dari segi hilir. Dari segi hulu pemerintah memberikan prioritas kepada perusahaan pelat merah ini untuk mengelola blok migas.

Salah satunya adalah Blok Mahakam yang bisa diperoleh tanpa harus mengeluarkan biaya. "Kayak Pertamina  kami kasih Mahakam, Mahakam  itu kira kira sebesar US$ 3 miliar, kira-kira gitu," kata dia.

PT Pertamina (Persero) pernah menyatakan kalau ada potensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 20 triliun hingga akhir tahun. Penyebabnya adalah terdapat selisih harga keekonomian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar dengan yang ditetapkan pemerintah.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan sejak awal tahun hingga Agustus, perusahaan sudah kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp 12,8 triliun atau hampir US$ 1 miliar. Ini karena Pertamina menjual Solar dan Premium di bawah harga keekonomian. 

Video Pilihan

Artikel Terkait