Pertamina Batal Kelola Blok East Kalimantan

Vice President Upstream Business Growth Pertamina Andi Wisnu mengatakan salah satu pertimbangan tidak jadi mengelola blok tersebut adalah keekonomian.
Anggita Rezki Amelia
18 September 2017, 19:15
Pertamina
Katadata | Arief Kamaludin

PT Pertamina (Persero) akhirnya memutuskan tidak mengambil alih pengelolaan Blok East Kalimantan setelah kontraknya berakhir di 2018. Padahal blok yang berada di Kalimantan Timur itu merupakan satu dari delapan blok yang ditugaskan pemerintah ke perusahaan pelat merah tersebut.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan keputusan tidak mengambil alih Blok East Kalimantan merupakan pertimbangan internal perusahaan. “Kami akan fokus di tujuh blok terminasi yang lain," kata dia kepada Katadata, Senin (18/9).

Vice President Upstream Business Growth Pertamina Andi Wisnu mengatakan salah satu pertimbangan tidak jadi mengelola blok tersebut adalah keekonomian. "Itu kebijakan portofolio perusahaan yang sudah diputuskan oleh Direksi," kata dia.

Pertamina memang sudah meminta waktu kepada pemerintah untuk menghitung ulang keekonomian Blok East Kalimantan. Direktur Utama Pertamina Elia Massa manik pernah mengatakan yang membuat Blok East Kalimantan tidak ekonomis adalah kewajiban dana pemulihan tambang (Abandonment Site Restoration/ASR).

(Baca: Alih Kelola Blok East Kalimantan Terganjal Dana Pasca Tambang)

Sebenarnya, jika jumlah dana yang harus ditanggung itu sedikit, blok itu masih ekonomis."Selain menanggung beban yang di depan, kami juga menanggung beban di belakang. Kalau kecil tidak apa-apa, bisa kami depresiasi," kata Elia beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Tunggal belum mau berkomentar mengenai hal ini. "Pak Direktur Jenderal Migas akan melaporkan dulu ke Menteri ESDM besok di rapat pimpinan Kementerian ESDM," kata dia.

Saat ini, Blok East Kalimantan masih dikelola Chevron Indonesia. Namun, pada Januari 2016 lalu, perusahaan asal Amerika Serikat itu, memutuskan mengembalikan aset-aset tesrebut kepada pemerintah setelah kontrak berakhir 24 Oktober 2018.

Di sisi lain, sejak awal Januari hingga akhir Juni, produksi  minyak blok tersebut mencapai 18,2 ribu barel per hari (bph). Sedangkan target dalam rencana kerja dan anggaran adalah 18,5 ribu bph.  

Adapun pada Januari lalu, Kementerian ESDM secara resmi telah menugaskan delapan blok migas kepada Pertamina. Delapan blok tersebut adalah Sanga-Sanga, East Kalimantan, Tengah, Tuban, Ogan Komering, South East Sumatera (SES), Attaka dan NSO.

Video Pilihan

Artikel Terkait