Harga Minyak Indonesia Periode Agustus Pertahankan Tren Kenaikan

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah salah satu faktornya karena ada peningkatan permintaan minyak mentah di Tiongkok dan India.
Arnold Sirait
6 September 2017, 17:59
Sumur Minyak
Chevron

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) terus mempertahankan tren kenaikan dalam dua bulan terakhir. Padahal pada Juni lalu, ICP sempat menyentuh level terendahnya di level US$ 43,66 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan ICP Agustus 2017 sebesar US$ 48,43 per barel, dari periode Juli 2017 yang mencapai US$ 45,48 per barel. "ICP jenis Sumatran Light Crude (SLC) juga meningkat menjadi US$ 49,17 dari bulan sebelumnya, yakni US$ 46,35 per barel," dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/9).

(Baca: Harga Minyak Indonesia Naik 4% dari Titik Terendah Tahun Ini)

Kenaikan ICP ini sejalan dengan perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional. Adapun harga Dated Brent naik sebesar US$ 3,08 per barel dari US$ 48,56 per barel menjadi US$ 51,64 per barel.

Selain itu, harga Brent (ICE) naik menjadi US$ 51,87 per barel dari US$ 49,15 per barel. Kemudian WTI (Nymex) naik sebesar US$ 1,38 per barel menjadi US$ 48,06 per barel. Adapun Basket OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) juga naik sebesar US$ 2,68 per barel menjadi US$ 49,61 per barel.

Lebih lanjut, Tim Harga Minyak menyatakan, harga minyak mentah utama di pasar Internasional mengalami peningkatan yang diakibatkan oleh beberapa faktor. Pertama, proyeksi adanya kenaikan permintaan minyak global, baik mentah atau olahan.

Berdasarkan publikasi OPEC di bulan Agustus 2017, proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2017 naik 0,11 juta barel per hari menjadi sebesar 96,49 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya. Sedangkan perkiraan pertumbuhan permintaan produk minyak global pada tahun 2017 juga direvisi naik 0,1 juta barel per hari dibanding laporan bulan sebelumnya, menjadi 1,5 juta barel per hari.

Faktor kedua kenaikkan harga minyak adalah adanya penurunan tingkat stok minyak mentah komersial dan distillate fuel oil Amerika Serikat selama bulan Agustus 2017 dibandingkan bulan sebelumnya. (Baca: BI Ramal Harga Minyak Naik di 2018, Subsidi Energi Akan Bengkak)

Berdasarkan laporan EIA (Energy Information Administration) USA, stok minyak mentah komersial Agustus 2017 turun 18,7 juta barel menjadi sebesar 463,2 juta barel. Adapun stok distillate fuel oil  bulan Agustus 2017 turun 1 juta barel menjadi sebesar 148,4 juta barel.

Ketiga, berdasarkan publikasi IEA dan OPEC di bulan Agustus 2017, stok minyak mentah komersial negara OECD mengalami penurunan sebesar 19,2 juta barel dan 21,9 juta barel.

Keempat, adanya penurunan rig di Amerika Serikat. Mengacu data Baker Hughes Incorporated, terdapat penurunan empat rig di Amerika Serikat  pada  Agustus 2017, menjadi 954 rig.

(Baca: Tembus US$ 50, Kenaikan Harga Minyak Diprediksi Tren Sementara)

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah dipengaruhi dua faktor, yakni berdasarkan publikasi OPEC, terdapat peningkatan permintaan minyak mentah di Tiongkok dan India. Kemudian, kondisi perekonomian Tiongkok terus mengalami peningkatan.

Video Pilihan

Artikel Terkait