Kontraktor Berbiaya Produksi Terbesar: KEI, PHE ONWJ, Medco Natuna

“Untuk ONWJ, KEI dan Medco Natuna memang relatif lebih tinggi dari rata-rata karena offshore,” kata Wisnu.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
30 Agustus 2017, 16:15
Rig
Katadata

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sudah mencatat biaya produksi per barel masing-masing kontraktor selama tujuh bulan pertama tahun 2017. Ada tiga kontraktor dengan biaya produksi terbesar yakni Kangean Energy Indonesia (KEI), Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) dan Medco Natuna.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabowo Taher mengatakan ketiga kontraktor itu memiliki ongkos paling besar karena lokasi wilayah kerjanya berada di lepas pantai (offshore). Kegiatan produksi di lepas pantai memang membutuhkan biaya tinggi dibandingkan di darat (onshore).

(Baca: Naik 26%, Cost Recovery 2018 Dipatok Hingga US$ 13,3 Miliar)

Adapun biaya per barel setara minyak (barel oil equivalent/BOE) ini meliputi biaya operasi dan pengembangan masing-masing kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). “Untuk ONWJ, KEI dan Medco Natuna memang relatif lebih tinggi dari rata-rata karena offshore,” kata Wisnu kepada Katadata, Selasa (29/8).

Berdasarkan data yang diperoleh Katadata, biaya produksi paling besar sejak awal tahun hingga 31 Juli 2017 adalah KEI dengan nilai US$ 31,25 per BOE. Padahal secara rata-rata biaya produksi seluruh kontraktor kontrak kerja sama hanya US$ 15,50 per BOE.

Kemudian, PHE ONWJ menempati posisi kedua, yang nilainya US$ 28,49 per BOE. Adapun Medco Natuna nilainya mencapai US$ 23,11 per BOE.

Presiden Direktur PHE Gunung Sardjono belum bisa berkomentar banyak mengenai hal itu. Alasannya harus mengecek data terlebih dulu. " Kami cek dulu, karena perhitungan internal kami tidak sebesar itu," kata dia.

Selain tiga kontraktor tersebut, ada juga beberapa kontraktor lainnya yang biaya produksinya melebihi rata-rata biaya produksi KKKS lainnya, yakni China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) US$ 22,85 per BOE, Pertamina EP US$ 19,42 per BOE, Chevron Pacific Indonesia (CPI) US$ 18,58 per BOE, dan Chevron Indonesia Company (CICO) US$ 18,58 per BOE. Sementara BP Tangguh tercatat mengeluarkan biaya produksi paling rendah yakni sebesar  US$ 1,86 per BOE.

(Baca: Lifting Minyak dan Gas Bumi Semester I 2017 Turun)

Di sisi lain anggaran cost recovery pada APBN-P 2017 sudah diputuskan Badan Anggaran (Banggar) DPR pada bulan lalu di angka US$ 10,7 miliar. Sedangkan realisasi hingga Juli 2017 mencapai US$ 5,87 miliar. Tahun depan, anggaran naik menjadi sekitar US$ 11,39 miliar hingga US$ 13,28 miliar. 

Video Pilihan

Artikel Terkait