Kementerian ESDM Masih Bahas Harga Gas Masela dengan Inpex

“Kalau harga kemahalan industri kan susah juga. Kalau ada insentif dari pemeritah industri mungkin bisa,” ujar Arcandra.
Anggita Rezki Amelia
11 Agustus 2017, 13:15
Rig
Katadata

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih membahas harga gas dari Blok Masela. Penentuan harga ini nantinya akan berpengaruh terhadap pembeli gas dari proyek strategis nasional tersebut.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan sudah membahas keekonomian proyek kaitannya dengan harga gas Masela dengan pihak Inpex Corporation, Kamis (10/8). “Tadi kami lihat keekonomiannya, berapa harganya yang bisa diambil oleh industri, dan apa strategi ke depannya,” kata dia di Kementerian ESDM, kemarin.

(Baca: Di Atas Permintaan Industri, Harga Gas Masela Dipatok US$ 5,5)

Harga gas ini nantinya sangat berpengaruh terhadap siapa yang akan menjadi pembeli, termasuk jumlah pasokannya. Apalagi, Arcandra menargetkan porsi gas pipa dari Masela untuk kebutuhan dalam negeri bisa mencapai 474 mmscfd.

Advertisement

Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan bisa mendapatkan pembeli secepatnya. “Kalau harga kemahalan industri kan susah juga. Kalau ada insentif dari pemeritah industri mungkin bisa,” ujar Arcandra.

(Baca: Kementerian ESDM Tak Mau Berikan Subsidi Harga Gas Blok Masela)

Arcandra memang belum mau menyebutkan harga gas Masela yang tepat untuk industri. Namun, ia pernah mengatakan harga gas Masela berdasarkan asumsi dan kalkulasi dari Inpex adalah US$ 5,86 per mmbtu. Namun, industri menginginkan sekitar US$ 3 per mmbtu.

Pembeli gas Masela ini pernah dibahas sebelumnya dalam rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Juni lalu. Usai rapat , Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan calon pembeli gas Masela adalah PT Pupuk Indonesia dengan alokasi 214 mmscfd, Elsoro Multi Prima 160 mmscfd dan Kalimantan Metanol Indonesia (KMI)/Sojitz 100 mmscfd.

(Baca: Pemerintah Targetkan Tiga Bulan Dapatkan Pembeli Gas Masela)

Selain itu PLN juga awalnya berencana menyerap 60 mmscfd. Namun, hal itu masih belum pasti karena perusahaan pelat merah itu juga memiliki opsi batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listriknya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait