SKK Migas Minta Biaya Kajian Proyek IDD Gendalo Dipangkas Hingga 76%

Chevron mengajukan angka hampir US$ 15 juta. Namun SKK Migas meminta biaya itu hanya US$ 3,6 juta.
Anggita Rezki Amelia
9 Agustus 2017, 15:41
Rig Minyak
Katadata

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupaya menekan biaya kajian pengembangan Lapangan Gendalo di Blok Selat Makassar. Lapangan ini masuk dalam salah satu proyek ultra laut dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD) yang dikelola Chevron Indonesia.

Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan dalam proposal persetujuan proyek (Authority for Expenditure/AFE) untuk kajian awal (pre-FEED) pengembangan Lapangan Gendalo, Chevron mengajukan angka hampir US$ 15 juta. Namun SKK Migas meminta biaya itu hanya US$ 3,6 juta. "Belum ada kesepakatan besarannya," kata dia kepada Katadata, Rabu (9/8).

(Baca: Jonan Ingin Chevron Pakai Fasilitas Jangkrik Agar IDD Cepat Produksi)

Sampai saat ini pembahasan memang masih berlangsung. Namun, targetnya, pembahasan rincian biaya proyek IDD di Lapangan Gendalo bisa selesai dalam bulan ini. Sehingga Chevron dapat segera memulai proses pre-FEED.

Proses pre-FEED itu diperkirakan bisa selesai dalam waktu enam bulan setelah AFE untuk pre-FEED disetujui SKK Migas. Alhasil ditargetkan proses kajian pre-FEED proyek IDD Lapangan Gendalo bisa selesai awal tahun depan. 

Dalam proposal tersebut, Chevron juga menyampaikan studi pemanfaatan bersama unit fasilitas produksi terapung (Floating Production Unit/FPU) di Proyek Jangkrik dengan Eni. Tujuannya agar keekonomian proyek IDD semakin lebih baik. 

Namun rencana pemanfaatan bersama fasilitas produksi ini memang terkendala kapasitas. Sebagai solusinya, SKK Migas sudah menyiapkan beberapa opsi.

(Baca: Chevron Pertanyakan Kemampuan Fasilitas Jangkrik Tampung Gas IDD)

Pertama, Chevron bisa membangun anjungan sendiri di laut dangkal. Namun tetap bisa memanfaatkan daya listrik dari FPU Jangkrik untuk operasional anjungan tersebut, sebab lokasinya berdekatan. Jika memakai opsi ini, proyek IDD Lapangan Gendalo baru berproduksi tahun 2025. 

Opsi kedua, memakai FPU Jangkrik setelah produksi Blok Muara Bakau menurun. Dengan skenario ini, Chevron baru bisa menggunakan FPU Jangkrik sekitar tahun 2027.

Dua opsi ini nantinya akan dipelajari Chevron untuk proses pre-FEED. Sehingga tahu perkiraan biaya yang akan dikeluarkan. "Berapa besarnya nanti tergantung hasil pre-FEED," ujar Fatar.

Selain Lapangan Gendalo, Chevron juga memiliki Gehem yang juga masuk dalam proyek IDD. Namun menurut Fatar, perusahaan asal Amerika Serikat ini akan mengembangkan lapangan tersebut secara bertahap.

(Baca: Proyek Migas IDD Gendalo-Gehem Ditargetkan Mulai Produksi 2022)

Sampai saat ini, Chevron juga belum mengajukan proposal pengembangan Lapangan Gehem. Meski begitu, menurut Fatar, lapangan itu tidak bisa menggunakan FPU Jangkrik karena lokasinya berjauhan.

Video Pilihan

Artikel Terkait