Pemerintah Diminta Pakai Sumber Energi Terbarukan untuk Mobil Listrik

"Kalau listriknya dari PLTU atau PLTG ya sama saja," kata Anggota DEN, Rinaldy.
Anggita Rezki Amelia
4 Agustus 2017, 15:47
Mobil Listrik BMW
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Corporate Communication Specialist BMW Group Indonesia Ismail Ashlan mengisi bahan bakar listrik mobil BMW i8 Protonic Red Edition yang merupakan edisi terbatas disela penyerahan mobil tersebut kepada pelanggan di Jakarta, Kamis (20/4). BMW i8 dirancan

Dewan Energi Nasional (DEN) meminta agar pemerintah menjadikan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai sumber bahan bakar mobil listrik. Ini untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT).

Anggota DEN Rinaldy Dalimi mengatakan jika mobil listrik menggunakan sumber dari pembangkit batubara atau uap maka tidak akan berpengaruh terhadap pengembangan EBT. "Kalau listriknya dari PLTU atau PLTG ya sama saja," kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (4/8).

(Baca: Arcandra: Mobil Listrik Tak Bisa Hilangkan Ketergantungan Minyak)

Setidaknya ada dua hal untuk mewujudkan mobil listrik berbasis EBT. Pertama adalah bisa menggunakan panel surya sebagai pembangkit. Kemudian penyediaan baterai sebagai komponen pengisi daya listrik ke mobil. 

Advertisement

Hal ini bukan bukan tidak mungkin karena ada negara lain yang sudah menerapkannya. "Di Prancis sudah ada panel surya yang menjadi tempat untuk mengisi ulang baterai mobil listrik," kata Rinaldy.

Menurut Rinaldy, pengembangan teknologi panel surya juga sudah tidak sulit. Bahkan sudah ada produsen mengembangkan pembangkit listrik berbasis tenaga surya di luar pulau Jawa dengan ekonomis. 

(Baca: Jonan: Presiden Jokowi Khawatir Cara Pengisian Ulang Mobil Listrik)

Untuk membangun pembangkit tenaga surya yang ada di atas (rooftop), para pengembang ini mengeluarkan dana US$ 45 juta dan dalam tujuh tahun sudah balik modal. "Jadi kan sudah cukup ekonomis di beberapa daerah," kata dia. 

Jadi, Rinaldy mengatakan tidak ada kendala keekonomian untuk pengembangan tenaga listrik berbasis tenaga matahari. Di sisi lain harga listrik dari panel surya juga murah yakni US$ 1-2 per watt. Sehingga mobil listrik bisa memanfaatkan sumber energi tersebut.

(Baca: Jamin Pasokan, PLN Siap Bangun SPBU untuk Mobil Listrik)

Ia pun optimis mobil listrik bisa berkembang di Indonesia. "Kalau pada 2025 pasar mobil listrik sudah berkembang, EBT pun bisa di-push," kata Rinaldy. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait