Harga Minyak Indonesia Naik 4% dari Titik Terendah Tahun Ini

Berdasarkan perhitungan tim harga minyak Indonesia, ICP rata-rata selama Juli 2017 menyentuh level US$ 45,48 per barel.
Anggita Rezki Amelia
2 Agustus 2017, 13:00
Migas
Dok. Chevron

Setelah jatuh ke level terendah tahun ini, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) periode Juli 2017 meningkat 4,39% dari bulan lalu. Ini seiring dengan perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.

Berdasarkan perhitungan tim harga minyak Indonesia, ICP rata-rata selama Juli 2017 menyentuh level US$ 45,48 per barel. Padahal bulan sebelumnya, harga tersebut masih berada di level terendah yakni US$ 43,66 per barel. (Baca: Turun 7%, Harga Minyak Indonesia Juni Capai Level Terendah Tahun Ini)

“Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah menetapkan ICP Juli 2017 sebesar USD45,48 per barel melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 2605/K/12/MEM/2017,” dikutip dari keterangan resminya, Rabu (2/8).

Selain ICP, harga Sumatran Light Crude (SLC) dari Lapangan Minas juga meningkat US$ 1,64 per barel menjadi US$ 46,35 per barel. Sebelumnya US$ 44,71 per barel.

Sementara harga minyak utama di pasar utama juga mengalami peningkatan. Jenis Brent naik sebesar US$ 1,60 per barel menjadi US$ 49,15 per barel. Kemudian West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$ 46,68 per barel dari US$ 45,20 per barel. Harga di Basket OPEC juga meningkat menjadi US$ 46,78 per barel dari US$ 45,21 per barel.

Menurut Tim Harga Minyak, peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional ini disebabkan beberapa faktor. Pertama adalah publikasi International Energy Agency (IEA) Juli 2017 yang menyatakan proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2017 naik 0,1 juta bph dibandingkan bulan sebelumnya.

(Baca: Subsidi Energi Berisiko Bengkak, Utang ke Pertamina Bisa Bertambah)

Kedua, respon positif pasar terkait pernyataan Menteri Arab Saudi bahwa akan membatasi ekspor minyak mentah sebesar 6,6 juta bph pada bulan Agustus 2017. Selain Arab, Nigeria juga setuju  mengikuti kebijakan OPEC yaitu membatasi produksi minyak mentahnya.

Faktor lainnya adalah turunnya stok minyak mentah di Amerika Serikat. Laporan IEA menjelaskan bahwa tingkat stok minyak mentah komersial, gasoline dan distillate fuel oil Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan.

(Baca: Tembus US$ 50, Kenaikan Harga Minyak Diprediksi Tren Sementara)

Sedangkan untuk kawasan Asia Pasifik, terdapat peningkatan permintaan produk minyak mentah di India dan Taiwan. Tidak hanya itu, publikasi International Monetary Fund (IMF) bulan Juli menyebutkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait