Arcandra Usul Chevron Bangun Fasilitas Produksi untuk Proyek IDD

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan secara normal Eni tentu akan memprioritaskan produksi dari lapangan yang mereka miliki.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
27 Juli 2017, 21:19
Arcandra ESDM
Arief Kamaludin (Katadata)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan agar Chevron membangun fasilitas produksi sendiri untuk Lapangan Gendalo dan Gehem yang masuk proyek ultra laut dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD). Opsi ini ditempuh jika fasilitas produksi terapung (Floating Production Unit/FPU) Jangkrik milik Eni tak mampu menampung gas dari proyek IDD.
 
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan secara normal Eni tentu akan memprioritaskan produksi dari lapangan yang mereka miliki. Untuk itu, ada rencana lain jika memang tidak bisa menggunakan fasilitas bersama. "Mereka (Chevron) bisa bikin fasilitas sendiri seperti rencana awal," kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (27/7). 
 
 
Meski begitu, Eni dan Chevron harus duduk bersama terlebih dulu membicarakan hal tersebut. Apalagi Chevron sudah memasukkan proposal persetujuan anggaran proyek untuk Lapangan Gendalo ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
 
Dalam proposal tersebut terdapat klausul penggunaan fasilitas produksi bersama dengan Eni di Proyek Jangkrik. Dengan begitu bisa menghemat biaya. 
 
Namun, manajemen Chevron menganggap proyek Jangkrik akan terisi penuh pada 2029 dan tidak bisa menampung gas dari IDD jika Lapangan Merakes juga menggunakannya. Hal ini pun sudah disampaikan kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam  kunjungannya ke  Houston, Amerika Serikat. 
 
 
Dalam lawatan tersebut, Jonan disambut oleh Presiden Chevron North America Exploration and Production Jeff Shellebarger dan President Chevron Environmental Management Company Mary Boroughs. "Salah satunya adalah membahas terkait perkembangan IDD dan kerjasama penggunaan fasilitas (Floating Production Unit/FPU) Jangrik dengan Eni untuk gas dari Gendalo-Gehem," ujar Jonan dalam keterangan resminya, Kamis (27/7). 
 
Kapasitas produksi FPU Jangkrik saat ini sebesar 450 mmscfd dan diharapkan bisa meningkat hingga 800 mmscfd. Sedangkan Lapangan Gehem akan menghasilkan gas 420 juta kaki kubik per hari (mmscfd), sedangkan Gendalo 700 mmscfd. Selain gas, kondensat yang dihasilkan Gendalo-Gehem sekitar 50 ribu barel per hari. 
 
 
Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan untuk memastikan kemampuan FPU Jangkrik, saat ini pihaknya masih membahas profil jangka panjang produksi semua lapangan yang berada di kawasan Kalimantan Timur (Kaltim). "Sehingga tahu berapa maksimum gas yang perlu mengalir ke FPU Jangkrik," kata dia kepada Katadata, Kamis (27/7).

Video Pilihan

Artikel Terkait