Pertamina Gandeng Repsol Studi Peningkatan Cadangan dan Produksi Migas

Kerjasama studi kedua perusahaan ini terdiri dari teknologi hulu berbasis digital, riset pengembangan Teknologi EOR, Biofuel generasi kedua, serta manajemen riset dan pengembangan.
Anggita Rezki Amelia
18 Juli 2017, 17:59
Pertamina-Repsol
Pertamina

PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama studi dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Spanyol, Repsol. Hal ini dalam rangka mempercepat produksi dan meningkatkan cadangan minyak serta pengembangan energi baru terbarukan.

Penandatangan kerjasama ini dilakukan Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik dan CEO Repsol Josu Jon Imaz serta dihadiri Menteri BUMN Republik Indonesia, Rini Soemarno di Madrid, Spanyol (17/7). Kerjasama studi kedua perusahaan ini terdiri dari teknologi hulu berbasis digital, riset pengembangan teknologi pengurasan sumur (Enhanced Oil Recovery/EOR), bahan bakar hayati (Biofuel) generasi kedua, serta manajemen riset dan pengembangan.

(Baca: Dua Sumur Blok Mahakam yang Dibiayai Pertamina Mulai Dibor)

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan teknologi hulu migas berbasis digital ini akan menghasilkan model karakteristik batuan reservoir. Model ini akan diterapkan pada Blok Jambi Merang yang juga wilayah kerja Pertamina dan Repsol sebagai percontohan.

Namun nantinya, model tersebut juga bisa dipakai di wilayah kerja lainnya. “Ke depan sumber daya manusia Pertamina akan mampu mengembangkan karakteristik reservoir serupa di wilayah kerja Pertamina lainnya,” kata Elia berdasarkan keterangan resminya, Selasa (18/7).

Untuk studi pengembangan teknologi EOR, Repsol akan melakukan alih pengetahuan dan teknologi. Kerjasama ini akan menerapkan sebuah studi laboratorium metode filtrasi EOR untuk program percobaan Lapangan Sago dan Limau (Q51).

Studi tersebut meliputi manajemen laboratorium, kesesuaian peralatan, penerapan prosedur dan aspek keselamatan dari penerapan EOR. ”Studi ini memperkuat komitmen Pertamina dalam mempercepat program EOR untuk meningkatkan cadangan dan produksi minyak lebih cepat,”ujar Elia.

(Baca: Pemerintah Kaji Teknologi EOR untuk Pacu Produksi Migas)

Sedangkan studi mengenai biofuel generasi kedua bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam memenuhi target 23% Energi Baru Terbarukan tahun 2025, sesuai Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014. Pertamina dan Repsol akan membangun kerjasama dalam pengembangan produksi produk biogasoline dengan teknologi pirolisis Biomassa.

Kerjasama biofuel ini akan difokuskan pada beberapa hal. Di antaranya adalah studi tentang penyediaan bahan baku, pemilihan proses, uji laboratorium terhadap uji fasilitas untuk memenuhi target kebijakan energi, peningkatan kualitas bahan bakar dan pemanfaatan bahan baku yang tersedia. 

(Baca: Pemerintah Bakal Ubah Skema Subsidi Biodiesel B20)

Studi lainnya yang dilakukan Pertamina dan Repsol adalah manajemen riset dan teknologi. Apalagi kini telah terbentuk pusat riset dan teknologi (Research and Technology Center) untuk menghadapi tantangan pasokan energi masa depan. “Repsol mempunyai kesamaan bisnis dengan Pertamina, dan memiliki reputasi  dan pengalaman yang signifikan dalam manajemen riset dan teknologi,”kata Elia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait