Pemerintah Klaim Woodmac Akui Gross Split Bisa Untungkan Kontraktor

Hitungan mereka sudah memasukkan insentif tambahan bagi hasil sebesar 5% dari Menteri ESDM, percepatan proses pelaksanaan proyek selama dua tahun dan efisiensi 10%.
Arnold Sirait
11 Juli 2017, 19:38
Rig
Katadata

Pemerintah mengklaim Wood Mackenzie mengakui skema gross split bisa lebih menguntungkan dibandingkan kontrak konvensional minyak dan gas bumi (migas). Namun, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Sebelumnya lembaga riset energi independen itu mengeluarkan kajian yang menyebut skema gross split kurang menarik.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan pemerintah memang sudah bertemu dengan Wood Mackenzie hari ini di Kementerian ESDM. Pertemuan tersebut, untuk menyamakan parameter dalam menganalisis gross split.Sharing paramater supaya analisis didasarkan dengan basis yang sama,” kata dia kepada Katadata, Selasa (11/7).

(Baca: Riset Terbaru, Skema Gross Split Migas Tak Menarik bagi Investor)

Menurut Wiratmaja, dalam pertemuan tersebut pemerintah dan Wood Mackenzie berdiskusi secara terbuka, termasuk membandingkan dengan negara lain. Kementerian ESDM hanya meminta  Wood Mackenzie harus menjaga independensinya dan basis datanya harus akurat dalam menganalisis.

Deputi Pengendalian Pengadaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto yang turut hadir dalam pertemuan itu mengatakan Wood Mackenzie sempat mempresentasikan hasil kajiannya mengenai gross split. Hitungan mereka sudah memasukkan insentif tambahan bagi hasil sebesar 5% dari Menteri ESDM, percepatan proses pelaksanaan proyek selama dua tahun dan efisiensi 10%.

Hasilnya, skema gross split lebih menarik bagi investor dibandingkan dengan model kontrak lama. “Lebih baik dibandingkan skema kontrak bagi hasil konvensional yang menggunakan penggantian biaya operasional (cost recovery) untuk Deepwater (laut dalam),” kata dia kepada Katadata, Selasa (11/7).

Research Director Wood Mackenzie Andrew Harwood mengatakan skema gross split bisa lebih menarik dari kontrak yang menggunakan pengembalian biaya operasional (cost recovery), dengan catatan biaya yang dikeluarkan lebih rendah dan pengembangan proyek bisa dijalankan dengan cepat. "Meski demikian, ketentuan fiskal yang berlaku di Indonesia masih tetap kurang mendukung, tanpa adanya insentif kepada investor," ujar dia. 

(Baca: Tak Mampu Pakai Gross Split, Pertamina Bisa Kembalikan Blok Migas)

Pada Maret 2017, konsultan independen ternama Wood Mackenzie mengeluarkan hasil risetnya yang bertajuk Indonesia's Gross Split PSC: Improved Efficiency at Risk of Lower Investment?. Riset itu menyebutkan skema kontrak tanpa cost recovery tidak menarik bagi investor.

Research Analyst Wood Mackenzie kawasan Asia Tenggara, Johan Utama mengatakan, kontraktor akan lebih sulit mendapatkan tingkat keekoonomian yang diinginkan dengan skema gross split. “Sehingga akan lebih sulit bagi kontraktor untuk menyetujui investasi,” kata dia kepada Katadata, Rabu (8/3). 

Keekonomian proyek migas dipengaruhi oleh besaran bagi hasil yang diterima oleh kontraktor dan negara. Selain itu, skema cost recovery. Dua faktor ini akan berdampak pada waktu pengembalian modal kontraktor. (Baca: Unggulkan Skema Gross Split, Jonan: Riset Woodmac Akan Direvisi)

Menurut Johan, jika menggunakan skema lama maka waktu yang dibutuhkan untuk balik modal menjadi lebih panjang. “Sehingga sulit mencapai keekonomian proyek (Net Present Value dan Internal Rate of Return) seperti di skema lama,” ujar dia.

(REVISI: Judul artikel ini sebelumnya adalah: "Kementerian ESDM: Wood Mackenzie Akui Gross Split Menguntungkan" . Perubahan judul bertujuan agar lebih mewakili permasalahannya dan pernyataan dari para narasumber. Selain itu, ada penambahan pernyataan dari pihak Wood Mackenzie pada paragraf ke-6 untuk menyeimbangkan perspektif artikel ini)

Video Pilihan

Artikel Terkait