Surati Jokowi, Jonan Minta Dukungan Kembangkan Mobil Listrik

Mobil listrik menjadi solusi terkait komitmen pemerintah untuk menurunkan efek rumah kaca sesuai perjanjian iklim Paris.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
11 Juli 2017, 14:57
Mobil Listrik BMW
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Corporate Communication Specialist BMW Group Indonesia Ismail Ashlan mengisi bahan bakar listrik mobil BMW i8 Protonic Red Edition yang merupakan edisi terbatas disela penyerahan mobil tersebut kepada pelanggan di Jakarta, Kamis (20/4). BMW i8 dirancang

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong pengembangan mobil listrik di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan untuk mewujudkan pengembangan mobil listrik, Menteri ESDM Ignasius Jonan sudah menyurati Presiden Joko Widodo sebelum lebaran khir Juni lalu. "Pak Jonan malah duluan gerak ke Pak Presiden agar mobil listrik mulai dibicarakan. Makanya kemudian Pak Sekretaris​ Kabinet mengundang rapat," kata dia kepada Katadata, Senin (10/7).

Inisiatif Jonan ini terinspirasi dari kunjungannya ke Tiongkok beberapa waktu lalu. Sebagai tindak lanjutnya, Sekretaris Kabinet, akan mengundang pemangku kebijakan lainnya seperti Kementerian Perindustrian untuk membahas masalah tersebut.

(Baca: Jonan ‘Jemput Bola’ Tawarkan Investasi Hulu Migas ke BUMN Tiongkok)

Kementerian Perindustrian ini memiliki peranan penting dalam pengembangan mobil listrik karena terkait dengan produksi fisik. Sementara Kementerian ESDM nantinya akan berkontribusi dalam penyediaan listrik sebagai sumber energi.

Pembahasan mobil listrik ini menurut Rida juga sudah dilakukan di kalangan internal Kementerian ESDM. Namun sampai saat ini memang belum mengerucut.

Di sisi lain, produksi mobil listrik, kata Rida,  menjadi bagian dari Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang digodok oleh Kementerian Perindustrian. "Saya belum baca RIPIN nya, tapi kalau bicara sama teman teman Kemenperin ada pembahasan soal itu (mobil listrik)," kata dia. 

Selain mengejar target pengembangan energi baru terbarukan, program mobil listrik ini juga bisa memberikan dampak positif lainnya bagi negara. Pertama, menurunkan ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini konsumsinya terus meningkat.

Kedua, upaya ini dapat membuat lingkungan menjadi bersih. Selain itu juga  menjadi solusi terkait komitmen pemerintah untuk menurunkan efek rumah kaca sesuai perjanjian iklim Paris. "Ini menurut saya ya," kata Rida.

Sebelum Indonesia, sebenarnya ada beberapa negara lain yang beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik. Salah satunya adalah Prancis yang akan melarang  kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel tahun 2040 nanti.

Prancis bukan satu-satunya negara yang melarang mobil bertenaga bakar bensin dan diesel. Belanda dan Norwegia sebelumnya ingin menyingkirkan kendaraan jenis tersebut  tahun 2025. Sementara Jerman dan India mengumumkan rencana serupa akan diterapkan tahun 2030.

(Baca: Mulai 2040, Perancis Larang Kendaraan Pakai Bensin dan Diesel)

Beberapa perusahaan otomotif juga beralih memproduksi mobil listrik. Salah satunya adalah Volvo, perusahaan mobil asal Swedia, yang ingin sepenuhnya menjadi produsen mobil listrik pada 2019.

Porsche, perusahaan asal Jerman juga menargetkan pada 2023 harus bisa memasarkan mobil listrik 50% dari total penjualan. Bahkan BMW juga sudah membuka diler pertama di Indonesia yang melayani penjualan mobil listrik. 

Video Pilihan

Artikel Terkait