Proyek Migas Jangkrik Masuk Daftar Prioritas Nasional

Menurut perhitungan KPPIP, secara total nilai investasi untuk proyek hulu migas yang menjadi proyek strategis nasional mencapai Rp 301,3 miliar.
Anggita Rezki Amelia
7 Juli 2017, 19:17
FUP Jangkrik
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Suasana Kapal Floating Production Unit (FPU) Jangkrik di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Selasa (21/3). Kapal FPU Jangkrik merupakan fasilitas migas berbentuk kapal dirancang untuk pengolahan gas dengan kapasitas hingga 450 jut

Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) memasukkan proyek Jangkrik sebagai salah satu dari daftar proyek strategis nasional. Dengan begitu, saat ini ada lima proyek hulu migas yang termasuk strategis. Sebelumnya ada Blok Masela, Proyek Laut Dalam (Indonesian Deepwater Development/IDD), Train 3 Tangguh, dan Lapangan Jambaran Tiung Biru di Blok Cepu.

Direktur Program KPPIP Rainier Haryanto Proyek Jangkrik yang dikelola perusahaan migas asal Italia, Eni ini masuk proyek strategis setelah melalui tahap evaluasi. "Betul Jangkrik masuk proyek strategis nasional, hasil usulan dan evaluasi," kata dia kepada Katadata, Jumat, (7/7).

(Baca: Blok Masela dan Tiung Biru Masuk Daftar Proyek Strategis Nasional)

Proyek strategis tersebut memiliki payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2017. Aturan ini merupakan revisi dari Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional.

Dengan terbitnya Perpres Nomor 58 tahun 2017 harapannya seluruh proyek infrastruktur yang masuk dalam daftar PSN dapat mulai berjalan seluruhnya sebelum tahun 2019. Untuk mengakselerasi proses pengerjaan proyek prioritas, pemerintah memberikan dukungan dalam beragam isu ,diantaranya ada tujuh isu utama. 

Pertama, melakukan percepatan perizinan. Kedua, melakukan percepatan dan penyelesaian kendala pengadaan tanah. Ketiga, melakukan pencapaian financial close hingga konstruksi dapat dimulai. Keempat, mencarikan solusi terkait masalah pendanaan. Kelima, menyiapkan penyusunan kajian proyek. Keenam, mendorong penerbitan regulasi/landasan hukum, dan ketujuh, menyelesaikan masalah penataan ruang. 

 (Baca: Empat Proyek Hulu Migas Prioritas Akan Dapat Kemudahan Lahan)

Menurut perhitungan KPPIP, secara total nilai investasi untuk proyek hulu migas yang menjadi proyek strategis nasional mencapai Rp 301,3 miliar. Rinciannya proyek Blok Masela mencapai Rp 289,900 miliar, IDD yang dikelola Chevron Rp 124,8 miliar, Tangguh LNG Train 3 Rp 104 miliar, Jangkrik Rp 45,5 miliar, Jambaran Tiung Biru Rp 26,7 miliar. Nilai tersebut belum termasuk kebutuhan pengadaan tanah.

Sebagaimana diketahui, proyek pengembangan kompleks Jangkrik berada di lepas pantai laut dalam Indonesia. Proyek ini memuat produksi dari Lapangan Jangkrik dan Lapangan Jangkrik North East yang dikelola oleh Eni. Produksi dari kedua lapangan disalurkan melalui 10 sumur bawah laut yang terhubung dengan FPU Jangkrik.

(Baca: Dua Bulan Beroperasi, Proyek Gas Jangkrik Capai Puncak Produksi)

Setelah diproses di atas FPU, gas akan dialirkan melalui pipa khusus sepanjang 79 km ke fasilitas penerima di darat atau Onshore Receiving Facility yang keduanya baru dibangun oleh Eni, melalui Sistem Transportasi Kalimantan Timur, hingga tiba di kilang LNG Badak di Bontang. Produksi gas dari Jangkrik akan memasok gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNGO ke pasar domestik dan juga pasar ekspor.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait