Dua Bulan Beroperasi, Proyek Gas Jangkrik Capai Puncak Produksi

Bahkan kapasitas itu pun bisa meningkat lagi menjadi 600 mmscfd karena kondisi sumur masih baik.
Anggita Rezki Amelia
7 Juli 2017, 13:32
FUP Jangkrik
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Suasana Kapal Floating Production Unit (FPU) Jangkrik di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Selasa (21/3).

Proyek Jangkrik yang dioperatori perusahaan energi asal Italia, Eni berhasil mencapai produksi puncak pada Juli ini. Padahal proyek ini baru beroperasi medio Mei lalu.

Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman mengatakan, sejak awal produksi proyek ini terus meningkat. "Setelah lebaran atau satu minggu terakhir produksi Jangkrik sudah 450 mmscfd,” kata dia di Jakarta, Kamis (6/7).

(Baca: Jonan Andalkan Proyek Jangkrik untuk Capai Target Lifting Migas 2018)

Meski saat ini kapasitas maksimal fasilitas produksi tersebut masih 450 mmscfd, ke depan hal itu bisa ditingkatkan. Apalagi Eni sempat melakukan uji kapasitas terhadap unit fasilitas yang mereka pakai untuk memproduksi gas.

Hasilnya, Proyek Jangkrik mampu memproduksi gas melebihi batas kapasitas saat ini, hingga 540 mmscfd. Bahkan, kapasitas itu pun bisa meningkat lagi menjadi 600 mmscfd karena kondisi sumur masih baik. "Khusus lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East itu bisa 600 mmscfd, sumurnya oke," kata Fatar.

Untuk menggenjot produksi hingga 600 mmscfd tersebut, Eni sebenarnya memiliki beberapa opsi. Selain mengandalkan produksi lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East, perusahaan asal Italia itu juga memiliki Lapangan Merakes yang akan beroperasi 2019. Lapangan ini juga bisa menghasilkan 150 mmscfd.

(Baca: ENI Kirim Kargo LNG Pertama dari Proyek Jangkrik)

Opsi lainnya untuk meningkatkan produksi fasilitas tersebut adalah dengan berkejasama dengan Chevron terkait proyek laut dalam (Indonesian Deepwater Development/IDD). Jadi produksi dari lapangan Gendalo dan Gehem bisa menggunakan fasilitas Jangkrik. Apalagi lokasinya berdekatan.

Menurut Fatar dengan memanfaatkan fasilitas FPU Eni, Chevron bisa menekan biaya operasinya proyek IDD. "Jadi dia (Chevron) hanya perlu membangun platform saja, sementara Fasilitas produksinya bisa memanfaatkan bersama," ujar dia.

(Baca: Jonan Ingin Produksi Proyek Jangkrik Digenjot Dua Kali Lipat)

Di sisi lain, meski Eni berniat menaikkan produksi hingga 600 mmscfd, SKK Migas belum tentu menyetujuinya. Masih perlu evaluasi peningkatan produksi itu terhadap usia sumur. Jika produksi dua Lapangan tersebut semakin digenjot, akan berdampak memperpendek usia sumur gas yang ada. 

Video Pilihan

Artikel Terkait