Pemerintah Tunggak Utang Subsidi Hingga Rp 40 Triliun ke Pertamina

“Sekitar Rp 35 triliunan terdiri dari subsidi LPG, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan juga bahan bakar untuk Tentara Nasional Idonesia (TNI).”
Anggita Rezki Amelia
7 Juni 2017, 13:08
Pertamina
Katadata | Arief Kamaludin

PT Pertamina (Persero) mencatat adanya piutang pemerintah yang belum dibayarkan. Secara akumulatif dalam beberapa tahun terakhir, tagihan piutang Pertamina ke pemerintah mencapai puluhan triliun rupiah.  

Direktur Keuangan dan Strategi Perusahaan Pertamina Arief Budiman mengatakan, tunggakan piutang itu terdiri dari beberapa pembayaran yang terkait dengan subsidi energi. “Sekitar Rp 35 triliunan terdiri dari subsidi LPG, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan juga bahan bakar untuk Tentara Nasional Idonesia (TNI),” kata dia kepada Katadata, Rabu (7/6).

Sementara itu, menurut Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik, jumlah tunggakan piutang Pertamina kepada pemerintah lebih besar daripada yang disampaikan Arief. Nilainya bisa mencapai Rp 40 triliun. (Baca: DPR Siapkan Subsidi Khusus Pertamina untuk BBM Satu Harga)

“Posisi keuangan Pertamina tahun ini khususnya cash flow, ada tagihan-tagihan hampir Rp 40 triliun yang ada di pemerintah," kata dia saat rapat dengar pendapat dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (6/6).  

Elia mengatakan, sudah menyampaikan piutang tersebut dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjutnya. Padahal ada beberapa proyek besar yang harus digarap Pertamina dan membutuhkan dana jumbo.

(Baca: Pertamina Targetkan 16 Wilayah Nikmati BBM Satu Harga Bulan Ini)

Salah satu proyek itu adalah penugasan program BBM satu harga. Menurut Elia, perkiraan biaya distribusi untuk BBM satu harga ini mencapai  Rp 5 triliun per tahun. Biaya tersebut berasal dari anggaran internal Pertamina.

Ada pula beberapa proyek kilang, baik pembangunan kilang baru di Bontang dan Tuban, maupun peningkatan kapasitas kilang di Tuban, Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Dumai. Untuk menggarap proyek kilang tersebut, Pertamina membutuhkan dana sekitar US$ 36,27 miliar atau lebih dari Rp 471 triliun.

Di sisi lain, kinerja Pertamina pada awal tahun ini tidak sekinclong tahun lalu. Laba bersih BUMN energi ini tergerus akibat kenaikan harga minyak dan beban penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM).

(Baca: Tertekan Beban Penjualan BBM, Laba Pertamina Anjlok 24,7%)

Laba bersih Pertamina pada kuartal I tahun ini mencapai US$ 760 juta. Jumlahnya merosot 24,75 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,01 miliar.

Video Pilihan

Artikel Terkait