Terhambat Lahan, Pembangunan Pipa Gas Duri-Dumai Tertunda

“Memang maunya cepat tapi izin pembebasan lahan bukan hal mudah, apalagi di daerah Sumatera."
Miftah Ardhian
27 April 2017, 19:38
pipa gas
Arief Kamaludin | Katadata

Pembangunan pipa gas dari Duri ke Dumai sampai saat ini belum juga rampung. Padahal, Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 4975 K/12/MEM/2016 mengamanatkan proyek tersebut selesai kuartal I tahun ini.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk mengatakan, pembangunan pipa gas itu belum selesai karena masalah lahan. Padahal pipa sudah dikirim ke lokasi. “Memang maunya cepat tapi izin pembebasan lahan bukan hal mudah, apalagi di daerah Sumatera," ujar dia saat konferensi pers di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (27/4).

(Baca: Pertamina - PGN Harus Selesaikan Pipa Gas Duri-Dumai Kuartal I-2017)

Dalam aturan yang dikeluarkan Sudirman Said saat menjabat Menteri ESDM, proyek pipa ini dibangun dan dioperasikan secara bersama-sama PGN dan PT Pertamina (Persero). Anggaran proyek ini juga mengggunakan kas kedua perusahaan.

Menurut Dilo, Pertamina dan PGN saat ini juga sudah membagi tugas, salah satunya adalah mengenai pengangkutan gas. Jadi, nantinya PGN fokus mengangkut gas pada industri dan rumah tangga. Sedangkan, Pertamina untuk kilang minyak miliknya.

(Baca: Holding Pertamina-PGN Membuat Harga Gas Lebih Murah)

Selain itu, kedua badan usaha itu juga sudah menemukan kesepakatan mengenai kebutuhan material untuk membangun pipa. Bahkan saat ini sudah ada pembangunan fisik. Sehingga Dilo menargetkan, pembangunan infrastruktur gas ini bisa selesai dalam waktu 18 bulan dari sekarang.

Sementara itu, Direktur Gas Pertamina Yenni andayani mengatakan, memang telah terjalin kesepakatan antara Pertamina dengan PGN dalam pengerjaan proyek pipa Duri-Dumai. Dengan begitu bisa segera melakukan pekerjaan fisik.

(Baca: PGN Rampungkan Proyek Jaringan Pipa Gas 18,3 Km di Batam)

Menurutnya, pembangunan infrastruktur ini penting untuk memenihi kebutuhan pasar di Pulau Sumatera. Dari sisi pemasok gas nya pun diklaim sudah siap untuk melakukan pasokan. "Kalau infrastruktur tidak terbangun, yang rugi bukan hanya pasar atau pemsoknya, tapi PGN dan Pertamina kehilangan potensi bisnisnya," ujarnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait