Pemprov Maluku Permudah Pembebasan Lahan Kilang Masela

Pemilihan lokasi kilang mempertimbangkan faktor topografi, dan kondisi alam seperti arah angin.''Aru terlalu jauh, jaraknya 300 kilometer,'' kata Gubernur Maluku Said Assagaff.
Anggita Rezki Amelia
22 Maret 2017, 16:52
Blok Masela
Arief Kamaludin | Katadata

Pemerintah Provinsi Maluku menjamin kemudahan pembebasan lahan untuk proyek pembangunan kilang gas Masela. Tujuannya agar proyek bisa berjalan cepat dan dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengatakan, mulai tahun ini pembebasan lahan akan menjadi perhatian pemerintah daerah. Hal ini sesuai dengan instruksi dari Presiden Joko Widodo untuk mempercepat proses tersebut. (Baca: SKK Migas Cari Lahan 600 Hektare untuk Proyek Blok Masela)

Dalam rangka pembahasan lahan, Said akan mulai berkunjung ke beberapa lokasi di Maluku. “Tahun ini juga saya akan meninjau beberapa daerah  di sana, antara lain Selaru untuk kesejahteraan masyarakat di sana,” kata dia saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Rabu (22/3).

Untuk menghindari calo, pemerintah daerah juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat sejak tahun lalu. Dalam sosialisasi tersebut, pemerintah daerah melarang perorangan membeli tanah dalam jumlah besar.

Said juga sudah menerima paparan dari studi yang dilakukan kontraktor mengenai lokasi yang cocok untuk pembangunan kilang. Namun, ia belum mau menyebut lokasinya. Yang jelas, ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi, yakni topografi, dan kondisi alam seperti arah angin.

Menurut dia, pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan dua hal, yaitu daerah harus tetap aman dan masyarakat mendapat kesejahteraan. “Sudah ada lokasinya, Cuma jangan dari saya dulu, nanti tidak enak,” ujar dia.

(Baca: Menteri ESDM Minta Pemda Maluku Awasi Calo Tanah Proyek Masela)

Sumber Katadata di sektor migas pernah mengatakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menginginkan kilang tersebut dibangun di Pulau Tanimbar. Hal ini didukung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Sedangkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memilih Aru.

Menanggapi hal itu, menurut Said, Pulau Aru terlalu jauh dan tidak strategis untuk membangun kilang Masela. ''Aru terlalu jauh, jaraknya 300 kilometer (km),'' kata dia. 

Mengacu kajian Inpex Corporation, jika kilang dibangun di Tanimbar maka membutuhkan pipa sepanjang 200 kilometer (km). Alhasil, dana investasi yang dibutuhkan US$ 19,3 miliar. Sedangkan kalau dibangun di Aru membutuhkan pipa 600 kilometer (km),  dan biaya melesat menjadi US$ 22,3 miliar.

Masyarakat juga diminta tidak saling berebut daerah pembangunan kilang. Pemerintah kabupaten harus menghilangkan konflik kepentingan sehingga penilaian berdasarkan hasil studi yang kredibel. Di sisi lain, dalam pengerjaan proyek, semua tenaga kerja harus diambil dari Maluku.

Di sisi lain, Said tidak mau mencampuri soal rencana besaran kapasitas produksi Proyek Masela. Keputusan itu diserahkan kepada Kementerian ESDM. (Baca: Kementerian Energi Terbelah soal 2 Poin Pengembangan Blok Masela)

Namun ia optimistis proyek tersebut bisa berjalan tahun ini, sehingga lima tahun ke depan sudah mulai produksi. Di kawasan tersebut nantinya akan dibangun beberapa industri seperti pupuk dan petrokimia. “Saya dengar dari Menteri (ESDM) Pak Jonan, tahun ini mulai dilakukan, kan 5 tahun ke depan baru bisa produksi,” ujar dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait