Temui Luhut, Chevron Bahas Nasib Proyek Migasnya di Indonesia

Manajemen Chevron masih menghitung untuk mengajukan perpanjangan kontrak Blok Rokan yang akan berakhir masanya pada 2021 mendatang.
Miftah Ardhian
24 Februari 2017, 20:05
Pekerja Chevron
Arief Kamaludin|KATADATA

Manajemen Chevron Indonesia menyambangi kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (24/2). Dalam pertemuan tersebut, Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor menyampaikan nasib Blok Rokan di Riau kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut Luhut, saat ini manajemen Chevron masih menghitung untuk mengajukan perpanjangan kontrak Blok Rokan. Seperti diketahui, blok migas ini akan berakhir kontraknya pada 2021 mendatang. "Itu sudah ada prosedurnya dan sedang bicara Pak Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral)," ujar dia usai pertemuan.

(Baca: Chevron Ajukan Perpanjangan Kontrak Blok Rokan ke Pemerintah)

Selain masalah Blok Rokan, manajemen Chevron juga melaporkan proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) Lapangan Bangka. Luhut mengatakan, proyek tersebut sudah berjalan baik dengan mulai berproduksi dan menjual hasil produksinya ke Thailand.

Sekadar informasi, Lapangan Bangka pertama kali berproduksi pada Agustus tahun lalu. Dalam waktu dua bulan, lapangan ini sudah mencapai puncak produksinya sekitar 110 juta kaki kubik per hari (mmscfd). (Baca: Dalam 2 Bulan, Lapangan Bangka Proyek IDD Capai Puncak Produksi)

Pertemuan tersebut juga membicarakan ketertarikan Chevron untuk menggarap proyek-proyek migas lainnya di Indonesia. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap awal pembahasan. Jadi, Luhut enggan menyebutkan proyek yang diminati Chevron tersebut.

Sementara itu, Senior Vice President Policy, Goverment, and Public PT Chevron Pacific Indonesia Yanto Sianipar mengatakan, pertemuan tersebut memang rutin dilakukan secara berkala. Tujuannya untuk menyampaikan bisnis Chevron di Indonesia. (Baca: Alih Kelola Blok East Kalimantan Terganjal Dana Pasca Tambang)

Yanto masih enggan menjelaskan lebih rinci proyek mana saja yang dibahas dalam pertemuan tersebut. "Kami tidak bicara detail, cuma bisnis Chevron di Indonesia secara umum," ujar dia, Jumat (24/2).

Video Pilihan

Artikel Terkait