Lebih 50 Investor Lokal dan Asing Berebut Proyek Kilang Bontang

Selain mendapatkan hak mayoritas di Kilang Bontang, investor juga akan memperoleh tingkat pengembalian investasi (IRR) sebesar 13 persen.
Anggita Rezki Amelia
24 Februari 2017, 15:48
Kilang Minyak
KATADATA

Hingga kini, ada 50 perusahaan dalam dan luar negeri yang menyatakan minatnya menggarap proyek kilang minyak di Bontang, Kalimantan Timur. Padahal, PT Pertamina (Persero) baru akan membuka proses lelang proyek tersebut pada 28 Februari mendatang.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rachmad Hardadi mengatakan, 50 perusahaan tersebut terdiri dari berbagai jenis mulai dari perusahaan perorangan hingga tujuh perusahaan energi kelas dunia. Bahkan, investor Arab Saudi yang akan mengunjungi Indonesia pada pekan depan juga memiliki kesempatan bermitra dengan Pertamina untuk membangun Kilang Bontang.

(Baca: Pertamina Tawarkan Kilang Bontang ke Arab Saudi)

Proses lelang proyek ini akan berlangsung kurang lebih selama satu bulan. Harapannya, pada 28 April mendatang sudah ada pemenangnya. ''Akhir April sudah terpilih mitra,'' kata dia dalam konferensi pers Pertamina di Jakarta, Jumat (24/2).

Setelah mendapatkan mitra, Pertamina dan mitra akan mulai melakukan proses Bankable Feasibility Study (BFS) atau kelayakan pendanaan proyek. Pertamina menargetkan proses ini bisa selesai pada awal tahun 2018. 

Pertamina berharap mitra strategis yang terpilih nantinya dapat berperan dalam pengadaan minyak dan menyiapkan pendanaan dengan baik. Mereka  wajib menyetor jaminan dana di bank nasional sebagai wujud komitmen pasti dalam membangun kilang.

Pembayaran uang jaminan itu terdiri dari dua tahap. Pertama, biaya jaminan mulai  disetor pada kuartal kedua tahun ini sebesar US$ 5 juta. Kedua, pada awal tahun depan mitra terpilih kembali melakukan pembayaran jaminan kepastian sebesar U$ 10 juta. (Baca: Dana Terbatas, Pertamina Hanya Bisa Danai 20 Persen Kilang Bontang)

Selain pendanaan, mitra juga harus  dapat memasarkan produk kilang yang tidak terserap di pasar domestik untuk diekspor ke pasar luar negeri, seperti Australia, Papua Nugini, Selandia Baru,  dan Filipina. Produksi Kilang Bontang diperkirakan sebesar 300 ribu bph, dan seluruhnya akan dibeli oleh Pertamina.

Sebanyak 40 persen dari produksi kilang tersebut berupa Bahan Bakar Minyak (BBM), seperti Premium, yang akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, produksi Bahan Bakar Diesel sekitar 40-50 persen akan diekspor karena pasokan sedang surplus.

Grafik: Produksi Hasil Kilang dalam Bentuk BBM 2014
Produksi Hasil Kilang dalam Bentuk BBM 2014

Di sisi lain, investor akan mendapatkan hak kepemilikan sebesar 75 persen. Meski minoritas, aset kilang Bontang nantinya akan menjadi milik Pertamina setelah 10-20 tahun masa kontrak. "Tentu harus ada dalam klausul, istilahnya right to buy," kata Hardadi. 

Selain mendapatkan hak mayoritas, investor juga akan mendapatkan tingkat pengembalian investasi (IRR) bagi investor di Kilang Bontang sebesar 13 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyek kilang pada umumnya yang hanya 10 persen. Di sisi lain, investor dan Pertamina tetap mengedepankan aspek konten lokal dan penyerapan pekerja di dalam negeri.

Untuk mempercepat pembangunan Kilang Bontang, Pertamina telah menjamin beberapa hal yang bisa mendukung kelangsungan proyek. Pertama, sekitar 460 hektare lahan milik negara yang menjadi lokasi kilang telah tersedia untuk dimanfaatkan dengan mekanisme sewa.

Kedua, telah tersedia fasilitas penunjang operasi milik LNG Badak yang dapat dimanfaatkan oleh Kilang Bontang seperti uap, pembangkit, infrastruktur air, dan konstruksi jetty. Ketiga, telah terdapat fasilitas pendukung lainnya yang bisa dipakai di Kilang Bontang seperti perumahan karyawan, rumah sakit, bandara, dan sekolah.

(Baca: Kebut Kilang Bontang, Pertamina Pakai Aset Badak NGL

Terakhir, dekat dengan sumber gas yakni dengan Blok Mahakam yang bisa menyuplai gas untuk kebutuhan operasi Kilang Bontang. “Pembangunan kilang ini akan tercapai pada 2023  dengan kebutuhan investasi mencapai US$ 8 miliar,” ujar dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait