PLN Usul Jual-Beli Listrik Energi Baru Pakai Sistem Hibrida

Jadi, listrik dari sumber energi yang berbeda-beda, akan dihitung menjadi satu paket.
Anggita Rezki Amelia
31 Oktober 2016, 17:09
PLN
Arief Kamaludin|KATADATA
PLN

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengusulkan sistem hybrid untuk jual-beli listrik dari pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) di luar Jawa. Jadi, listrik dari sumber energi yang berbeda-beda akan dihitung menjadi satu.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, sudah mengirimkan usulan mengenai penghitungan tarif dengan sistem hybrid tersebut kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pada dua pekan lalu. “Ini mixing, misalnya tenaga matahari dengan angin dan lain-lain. Kami minta satu paket untuk 24 jam,” kata dia di Jakarta, Senin (31/10). (Baca: PLN Akan Tunda Proyek Kabel Laut Jawa-Sumatera)

Dengan sistem ini, kontraktor akan membangun pembangkit listrik berdasarkan potensi yang ada. Pertimbangan lainnya adalah jumlah konsumen yang ada di luar Jawa lebih sedikit dibandingkan yang ada di Jawa.

Contohnya, jika di suatu pulau ada 800 kepala keluarga (KK) dan kebutuhan listriknya ditaksir sebesar 300 Kilowatt, maka bisa membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro, angin dan matahari yang ada di daerah tersebut. “Karena cuma 300 KK, buat PLN bangun distribusi di sana. Tapi tetap pemasarannya PLN, tidak mungkin jual di atas 1.800,” ujar Sofyan.

Advertisement

Sofyan mengatakan, saat ini sudah ada lima perusahaan swasta yang tertarik menggunakan sistem hybrid untuk membangun pembangkit EBT di kawasan Indonesia Timur. Pembangkit listrik dengan sistem ini maksimum berkapasitas 6 Mega Watt. (Baca: PLN Isyaratkan Batal Ikut Lelang Aset Panas Bumi Chevron)

Secara tarif, menurut Sofyan, PLN juga berani membeli harga listrik lebih mahal untuk pengembang di luar Jawa dibandingkan dengan di Jawa. Dengan begitu, pembangunan pembangkit berbasis EBT di daerah makin berkembang.

Menurut dia, pembangunan listrik di wilayah terpencil, apalagi berbasis EBT, sangat penting. Sebagai BUMN, PLN menjadi tangan kanan negara yang bertindak sebagi agen pembangunan dan juga profit. "Keseimbangan ini yang perlu," ujarnya.

Di sisi lain, produksi dari energi baru terbarukan di Indonesia memang masih di bawah potensi yang ada. Kementerian ESDM mencatat potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29.544 megawatt (MW), tapi pemanfaatannya untuk produksi baru  1.490,4 MW. Potensi energi surya lebih besar lagi, yakni 532.579 MW dan hanya diproduksi 16 MW. (Baca: Cadangan Minyak Habis 12 Tahun Lagi, Pemerintah Fokus Energi Baru)

Alternatif energi lainnya adalah  air dengan potensi 75.000 MW, namun produksinya baru 5.383 MW. Sedangkan potensi bioenergi 32.654 MW, namun produksinya hanya 86,23 MW.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait