PLN Berutang Rp 4 Triliun dari Jepang untuk Pembangkit Priok

Proyek ini menggunakan skema pinjaman langsung tanpa jaminan Pemerintah Indonesia. Skema seperti ini sudah pernah digunakan JBIC untuk membiayai PLTU Lontar 315 MW.
Anggita Rezki Amelia
20 Oktober 2016, 19:58
PLN
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengantongi pinjaman US$ 310 juta atau sekitar Rp 4,03 triliun dari sindikasi bank yang dipimpin oleh Japan Bank for Internasional Coorperation (JBIC). Sindikasi bank itu terdiri atas Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, Mizuho dan ANZ.

Pinjaman itu untuk membiayai proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Jawa 2 di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Penandatanganan perjanjian pinjaman itu dilakukan oleh Direktur Bisnis PLN Regional Jawa Bagian Barat Murtaqi Syamsuddin dan Global Head of Infrastructure and Environment Finance Group JBIC Hideo Naito di Kementerian Keuangan, Jakarta (20/10).

(Baca: Perkuat Listrik di Jakarta, PLN Operasikan 24 Gardu Induk Baru)

Pinjaman untuk proyek ini menggunakan skema pinjaman langsung tanpa jaminan Pemerintah Indonesia. Ini adalah kali kedua JBIC memberikan pinjaman langsung kepada PLN tanpa jaminan pemerintah. Proyek pertama yang didanai oleh JBIC tanpa jaminan pemerintah adalah PLTU Lontar 315 Mega Watt (MW) yang sekarang dalam tahap konstruksi.

Advertisement

Murtaqi mengatakan, pinjaman ini bersifat jangka panjang dengan tenor sekitar 15 tahun. Skema utang tanpa jaminan pemerintah ini menjadi alternatif pendanaan selain dari pasar obligasi maupun dari lembaga-lembaga multilateral.

“Keuntungannya, PLN tidak terkena negative carry, selain itu prosesnya juga cukup cepat,” kata Murtaqi dalam siaran pers PLN, Kamis (20/10). 

Selain pinjaman dari konsorsium JBIC, proyek ini juga akan didanai sendiri oleh PLN dengan modal sebesar US$ 127 juta. Sementara kebutuhan pendanaan proyek PLTGU Priok ini secara keseluruhan mencapai US$  437 juta.

Kapasitas PLTGU Priok ini 800 MW, yang merupakan bagian dari program listrik 35 ribu MW. Proyek ini akan dikerjakan oleh Mitsubishi yang bermitra dengan PT Wasamitra Engineering dengan skema EPC (Engineering Procurement Construction).

(Baca: 51 Persen Proyek Listrik 35 Ribu MW Masih Belum Berkontrak)

Lahan untuk proyek ini sudah dikuasai dan dibebaskan (land clearing ) oleh PLN, yang selanjutnya diserahkan kepada pihak kontraktor EPC. Pengerjaannya diharapkan rampung pertengahan 2019.

Grafik: Realisasi Pembangkit Listrik 2011-April 2016

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait