Konsorsium Pertamina Menang Tender Proyek Listrik Jawa 1

Tim evaluator PLN menganalisa lebih mendalam semua penawaran, karena risiko kegagalan proyek tinggi jika peserta tidak mengikuti syarat pengadaan.
Arnold Sirait
13 Oktober 2016, 16:55
PLTU Suralaya
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akhirnya menunjuk konsorsium PT Pertamina bersama dua perusahaan asal Jepang: Marubeni Corporation dan Sojitz Corporation, sebagai pemenang tender Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1.

Senior Manager Public Relation PLN Agung Murdifi mengatakan, PLN telah menyelesaikan evaluasi teknis dan administrasi dalam proses tender pembangkit listrik Jawa 1. Evaluasi itu termasuk tawaran harga yang diajukan oleh para peserta tender.

“Dari semua aspek yang telah ditentukan oleh PLN, konsorsium Pertamina - Marubeni Corporation– Sojitz Corporation diputuskan sebagai peringkat pertama peserta tender,” kata dia kepada Katadata, Kamis (13/10).

Konsorsium Pertamina berhasil mengalahkan dua konsorsium lainnya, yaitu PT Adaro Energi Tbk bersama Sembcorp dan konsorsium PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) bersama PT Rukun Raharja Tbk - Mitsubishi Corporation. Sementara konsorsium PT Medco Power Generation Indonesia bersama Nebras Power dan Korea Electric Power Corporation sudah gagal dalam proses evaluasi teknis dan administrasi. 

Advertisement

(Baca:  Tawaran Rendah, Pertamina Berpeluang Gaet Proyek Listrik Jawa 1)

Menurut Agung, PLN sangat berhati-hati dalam menentukan peringkat pertama tersebut. Tim evaluator PLN juga menganalisa lebih mendalam semua penawaran, karena risiko kegagalan proyek akan tinggi jika peserta tidak mengikuti syarat pengadaan, khususnya pada peserta yang mengusulkan harga paling rendah.

Selain itu, PLN harus meninjau aspek efisiensi peserta  tender. “Konsorsium pemenang pastinya sudah sesuai dengan ketentuan serta merupakan pengembang yang benar, kompeten dan tentu saja memiliki kemampuan keuangan yang baik,” ujar Agung.

Namun, PLN memberikan kesempatan kepada para peserta tender untuk menyanggah apabila ada prosedur pengadaan yang tidak dilaksanakan. Hal ini untuk memenuhi kaidah Good Corporate Governance ( GCG) atau penerapan korporasi yang baik.

Selanjutnya, dalam waktu 45 hari sejak penunjukan itu, konsorsium Pertamina wajib  menandatangani perjanjian jual-beli ketenagalistrikan. Tujuannya untuk memastikan bahwa jadwal Comercial Operation Date atau pengoperasian secara komersial pembangkit Jawa 1 dapat terealisasi tahun 2019. 

PLTGU Jawa 1 rencananya akan dibangun dengan kapasitas 1.600  Mega Watt (MW). Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 26 triliun. (Baca: Tak Lolos Tender, Medco Soroti Risiko Pendanaan Proyek Jawa 1)

Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan alokasi gas untuk proyek Jawa 1 masih dalam proses menanti keputusan Menteri ESDM. Menurut dia, ada dua sumber gas yang akan menjadi pasokan dalam proyek besar itu, yakni dari gas kilang Tangguh milik BP Indonesia dan gas dari proyek Jangkrik milik Eni Indonesia.

(Baca: PLTU Cilacap 1.000 MW Siap Dibangun)

Ia menambahkan, jumlah kebutuhan gas pembangkit Jawa 1 mencapai 16 kargo per tahun atau sekitar 170 bbtud. "Sekarang lagi proses antara dua itu," kata Iwan di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (13/10).

Sementara itu, Ketua Konsorsium Pertamina Ginanjar tidak mau berkomentar banyak mengenai hal itu. "Menunggu statement resmi PLN saja. Saya tidak mau mendahului," kata dia kepada Katadata

Reporter: Anggita Rezki Amelia, Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait