Selama Delapan Bulan, Laba Pertamina Retail Melejit 81 Persen

Pertumbuhan laba bersih Pertamina Retail mencapai 44 persen dalam 8 tahun terakhir.
Anggita Rezki Amelia
30 September 2016, 17:44
Pertamina logo
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina Retail membukukan laba bersih sebesar Rp 108,5 miliar sejak awal tahun hingga Agustus 2016.  Jumlahnya melonjak 81 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 60 miliar.

Direktur Utama Pertamina Retail Toharso mebandingkan dengan perolehan laba bersih sepanjang tahun lalu yang sebesar Rp 108,7 miliar.  "Tahun lalu kami dapat Rp 108,7 miliar, sekarang sampai Agustus saja sudah mencapai Rp 108,5 miliar,"  katanya dalam acara workshop dengan wartawan di Gedung Pertamina, Jakarta, Jumat (30/9).

Artinya, perolehan laba bersih Pertamina Retail selama delapan bulan tahun ini sudah menyamai pencapaian sepanjang tahun lalu. (Baca: BPK Minta Pertamina Setor Keuntungan Solar Subsidi Rp 3,1 T ke Negara)

Menurut Toharso, pertumbuhan laba bersih Pertamina Retail mencapai 44 persen dalam 8 tahun terakhir. Anak usaha Pertamina di bidang retail ini dibentuk pada Februari 2006, dan dua tahun kemudian berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 8,23 miliar.

Advertisement

Tapi perolehan laba tersebut masih jauh dari target yang sudah ditetapkan. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2016, perusahaan ini menargetkan bisa membukukan laba bersih sebesar Rp 224,6 miliar hingga akhir tahun nanti.

Sementara itu, realisasi pendapatan sejak awal tahun hingga Agustus lalu mencapai Rp 6,9 triliun. Pendapatan ini tumbuh rata-rata 20 persen selama kurun waktu 8 tahun. Sedangkan hingga akhir tahun nanti, pendapatan ditargetkan sebesar Rp 14,2 triliun. (Baca: Hitungan Keekonomian, Harga Premium Turun Rp 300 Bulan Depan)

Toharso mengatakan, 70 persen dari total pendapatan Pertamina Retail ini berasal dari penjualan produk Bahan Bakar Minyak (BBM). Sisanya dari kontribusi penjualan non-BBM dari hasil penjualan di gerai Bright Store, Bright Cafe, Bright Oil Mart, dan Bright Car Washed yang berada di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dimiliki dan dikelola oleh Pertamina sendiri atau Company Own Company Operated (SPBU COCO).

Pada 2025 mendatang, pendapatan dari penjualan nonsubsidi di SPBU COCO ditargetkan bisa menjadi 70 persen. Alasannya, Pertamina melihat potensi peningkatan penjualan non-BBM di SPBU COCO tersebut. "Kami menganalisa ribuan pengguna SPBU butuh barang untuk traveler, baik perjalanan kota dan antarkota, dan itu kami sediakan Bright Store," kata Toharso.

Pertamina Retail saat ini memiki 136 stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang berstatus COCO. Tahun depan, targetnya  bisa menambah sebanyak 200 unit SPBU COCO dengan jumlah investasi sebesar Rp 1 triliun. Jumlahnya terus bertambah hingga 2020, Pertamina bisa memiliki 1.000 SPBU COCO. (Baca: Pertamina Akan Tambah 40 SPBU COCO Tahun Ini)

Ada tiga langkah yang bisa dilakukan Pertamina untuk meningkatkan jumlah unit SPBU COCO. Pertama, mengakuisisi atau buy-back SPBU milik swasta untuk dibeli Pertamina. Kedua, bekerjasama dengan swasta untuk mengembangkan bisnis SPBU COCO di mana Pertamina berperan sebagai operator. Ketiga, Pertamina membangun sendiri SPBU COCO dengan dana perusahaan.

Menurut dia, mengakuisisi SPBU milik swasta adalah cara lebih cepat untuk mencapai target penambahan jumlah SPBU COCO Pertamina. Sebab, jika harus membangun sendiri, Pertamina bakal kesulitan lantaran perolehan  izin yang berbelit.

Toharso mengatakan, ada 25 izin yang harus dipenuhi untuk bangun SPBU, mulai dari Izin Mendirikan Bangunan, Analisa Mengenai Dampak Lingkungan sampai izin ke tingkat kelurahan. “ Izin di tingkat kelurahan tidak mudah. Perusahaan diminta oleh masyarakat setempat sebelum akhirnya diberikan izin,” kata dia. (Baca: SPBU Curang, Kementerian Perdagangan: Kami Buktikan ke Pertamina)

Pertamina Retail menyiapkan dana Rp 630 miliar untuk investasi tahun ini. Dari jumlah tersebut, Rp 500 miliar dipakai untuk kebutuhan membeli dan membangun SPBU.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait