Tekan Impor, Pertamina Bangun Pengolahan BBM di Bintan

"Memangnya Singapura saja yang bisa mencampur BBM. Kami juga mau melakukan ini sehingga bisa mengurangi impor."
Anggita Rezki Amelia
22 September 2016, 12:42
bbm
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina (Persero) terus berusaha menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satunya caranya adalah membangun fasilitas pencampuran BBM di dalam negeri, tepatnya di Tanjung Uban, Bintan, Kepulauan Riau.

Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba mengatakan, pembangunan fasilitas pencampuran BBM itu akan selesai Oktober mendatang. Selanjutnya, pada Desember nanti dilakukan uji coba untuk menghasilkan 200 ribu barel BBM berkadar oktan (RON 90) atau (Pertalite) dengan komponen campuran dari BBM berkadar oktan 92 atau Pertamax. (Baca: Resmi Gandeng Shell, Pertamina Hemat 15 Persen Impor BBM)

Setelah uji coba, fasilitas tersebut bisa beroperasi secara komersial pada 2017. Selain Pertalite, fasilitas ini akan menghasilkan BBM berkadar oktan 88 atau Premium. "Memangnya Singapura saja yang bisa mencampur BBM. Kami juga mau melakukan ini sehingga bisa mengurangi impor," kata Daniel saat berbincang dengan wartawan di Gedung Pertamina Jakarta, Rabu (22/9). 

Selama ini, Pertamina masih mengimpor Premium dengan volume 5 juta hingga 7 juta barel setiap bulan. Dengan beroperasinya Tanjung Uban, Daniel berharap bisa mengurangi impor Premium sebanyak 2 juta barel per bulan.(Baca: Impor BBM Bisa Teratasi Dengan Menghilangkan Pemburu Rente)

Advertisement

Ke depan, Pertamina  tidak menutup kemungkinan Premium hasil produksi dari fasilitas pencampuran di Tanjung Uban ini dapat dijual ke negara-negara lain. "Apalagi lokasi Tanjung Uban ini juga dekat dengan Singapura, naik kapal satu setengah jam. Jadi, ini bukan hanya bisnis saat ini tapi juga peluang masa depan," kata dia. 

Pertamina tengah mempelajari cara mencampurkan bahan baku mentah untuk dijadikan produk BBM. Daniel menyadari tidak mudah melakukan pencampuran karena harus menentukan bahan baku yang tepat.

Bahan baku yang tepat ini dapat menurunkan biaya pengadaan BBM. Alhasil, tidak menutup kerjasama untuk pengembangan luar negeri. "Lagi kami pelajari sambil menunggu proyek selesai," ujar dia. (Baca: Pertama Kali, Indonesia Akan Punya Cadangan Penyangga Energi)

Fasilitas pencampuran Tanjung Uban sebelumnya hanya berperan sebagai terminal BBM berkapasitas 60 ribu kiloliter. Tapi ada pengembangan dengan membangun infrastruktur racikan BBM, penambahan empat tangki kapasitas 50 ribu Kilo Liter (KL) dan dermaga berkapasitas 100 ribu DWT. 

Grafik: Impor Bensin RON 88 ( Premium) 2005-2010

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait