Pertamina Hulu Energi Lepas Hak Kelola Blok Luar Negeri

Rendahnya harga minyak dunia mempengaruhi keekonomian blok. Masih menunggu otoritas negara setempat.
Anggita Rezki Amelia
7 September 2016, 19:45
Rig
Katadata

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berencana menjual hak kelolanya di blok minyak dan gas bumi (migas) yang ada di luar negeri dan blok gas batubara metana (CBM) di dalam negeri. Rendahnya harga minyak mentah dunia -sekitar US$ 40 per barel- menjadi pemicu utama sehingga mempengaruhi keekonomian blok.

Presiden Direktur PHE Gunung Sardjono Hadi mengatakan akan melepas seluruh hak kelola di Blok SK-305 dan Blok 10 yang ada di Malaysia. Di blok SK-305, anak perusahaan Pertamina ini memiliki hak kelola 30 persen. Sedangkan di Blok 10 ada hak kelola sebesar 1o persen. (Baca: Mau Cabut dari Blok ONWJ, Kufpec Tawari Hak Kelola ke Pertamina).

Selain itu, PHE mau keluar dari Blok 11.1 yang ada di Vietnam. Rencana ini masih menunggu otoritas negara tersebut karena harus mengurus dana Abandonment dan Site Restoration (ASR). “Kami mau fokus dalam negeri saja. Kalau luar negeri biar PT Pertamina Internasional Ekplorasi dan Produksi (PIEP),” kata Gunung di Jakarta, Rabu, 7 September 2016.                         

PHE juga berencana melepas blok migas nonkonvensional di Indonesia. Saat ini, Pertamina Hulu Energi memiliki hak kelola 14 blok gas metana batubara (CBM). Dari 14 blok itu, ada delapan blok di mana PHE menjadi operator.

Advertisement

Delapan blok inilah yang akan dijual. “Kalau dijual laku, kenapa tidak. Kalau tidak laku akan kami kembalikan ke pemerintah,” ujar dia. (Baca: Perusahaan Migas Non-Konvensional Berhenti Beroperasi)

Menurutnya, blok itu jual karena dari segi karakter resevoir atau penampung minyak dan gas di perut bumi yang ada di Indonesia kecil. Ini berbeda dengan negara lain seperti Australia dan Cina. Di dua negara tersebut, reservoir bisa 0,5 juta kaki kubik (mmscfd). Sementara di Indonesia hanya 0,001 mmcfd utk satu sumur.

Secara teknik, pengeboran di Indonesia juga masih menggunakan teknologi konvensional. Hal ini akan mempengaruhi biaya produksi. Untuk itu, PHE sebenarnya sedang mencari teknologi dan teborosan yang lebih murah tapi masih sesuai standar. (Baca: Produksi Minyak Pertamina Hulu Energi Masih di Bawah Target).

Gunung juga menilai pengembangan blok CBM memerlukan waktu yang panjang. “Dari segi pasarnya juga belum ada jaminan, masa eksplorasi juga tidak kondusif,” ujar dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait