Transaksi Gas Sugih Energy-Bumi Siak Pusako Terganjal Harga

Badan operasi bersama Bumi Siak Pusako dan Pertamina Hulu Energi menginginkan harga US$ 8 per mmbtu.
Anggita Rezki Amelia
1 Juli 2016, 19:22
migas
Katadata

Transaksi jual-beli gas antara PT Sugih Energy Tbk dengan badan operasi bersama PT Bumi Siak Pusako dan PT Pertamina Hulu Energi sampai saat ini belum menemukan titik temu. Kedua belah pihak masih belum sepakat mengenai besaran harga gas.

Direktur Utama Sugih Energi Riyanto Soewarno mengatakan, pihaknya menginginkan harga US$ 8 sampai US$ 9 per mmbtu. Sedangkan badan operasi Bumi Siak Pusako dan PHE menginginkan harga US$ 8 per mmbtu.  (Baca: Tiga Syarat untuk Bisa Mendapat Penurunan Harga Gas)

Namun, dia berharap, kesepakatan perjanjian jual-beli gas (PJBG) dapat diteken pada September mendatang. Kontrak penjualan gas kepada Siak Pusako rencananya untuk jangka waktu enam hingga 10 tahun. Nantinya Sugih akan memasok gas sekitar enam hingga delapan juta kaki kubik (mmscfd) dari Blok Selat Panjang yang berada di Riau.

Untuk memenuhi kebutuhan pasokan ke Bumi Siak Pusako, Sugih akan mengebor sekitar tiga sumur di Blok Selat Panjang. Selain itu akan memasang pipa sepanjang 20 kilometer untuk menyalurkan gas. Namun, Sugih tahun ini hanya akan mengebor satu sumur terlebih dahulu dengan nilai investasi sebesar US$ 7 hingga US$ 8 juta.

Advertisement

Pada semester II nanti, Sugih juga berencana meningkatkan produksi di Selat Panjang. Alasannya, selain memasok ke badan operasi bersama antara Bumi Siak Pusako dan PHE, Sugih Energi juga memiliki kewajiban untuk memasok gas ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN). Volumenya mencapai 5 mmscfd dengan harga US$ 5,75 mmbtu dengan eskalasi 3 persen selama 5 tahun. (Baca:2015, Pendapatan Sugih Energy Meningkat 800 Kali)

Agar produksi tersebut bisa meningkat, Riyanto mengatakan, pasca Lebaran atau Juli nanti Sugih akan melakukan tujuh kegiatan well service atau perawatan sumur di Blok Selat Panjang. Dengan begitu alokasi gas untuk PLN bisa meningkat menjadi tiga mmscfd. 

Sekadar informasi, luas wilayah Blok Selat Panjang mencapai 946,25 kilometer persegi. Blok ini merupakan aset pertama Sugih dan memiliki hak kelola sebesar 55 persen, sisanya dimiliki oleh Petroselat Ltd yang merupakan anak usaha Petrochina International Selat Panjang Ltd.

Blok ini ditargetkan bisa memproduksi minyak hingga 4400 bopd dan gas sebesar 24 mmscfd atau sekitar 8.539 boepd hingga tahun 2018. Di sisi lain, kontrak bagi hasil blok ini akan berakhir di tahun 2021.

Selain mengembangkan Blok Selat Panjang, Sugih juga telah menerima persetujuan dari SKK Migas dan Kementerian ESDM untuk mulai memproduksi Blok Lemang sebanyak 5 ribu barel per hari tahun ini. Adapun investasinya sekitar US$ 10 juta atau Rp 140 miliar untuk pengeboran dua sumur. 

Blok ini juga memiliki cadangan migas sekitar 320 barel setara minyak. Masa kontrak Blok ini pun masih panjang hingga 2037. (Baca: Dapen Pertamina Masuk, Sugih Energy Memacu Produksi Blok Lemang)

Aset blok migas lain yang dimiliki Sugih adalah Blok Kalyani di Jambi yang masih berstatus eksplorasi. Awalnya kontrak bagi hasil ini diserahkan kepada Eurorich pada Desember 2011 dengan masa kontrak sampai 2041. Setahun kemudian, Sugih berhasil mengakuisisi 51 persen saham Eurorich.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait