PetroChina Tertarik Ikut Kelola Blok Masela

PetroChina sedang gencar menambah blok baru di Indonesia. Alasannya, selain keinginan dari manajemen baru, Petrochina menganggap investasi hulu migas di Indonesia masih menarik.
Arnold Sirait
27 Juni 2016, 15:48
PetroChina International Jabung
KATADATA
PetroChina International Jabung

Ladang kaya gas di Blok Masela menarik minat beberapa kontraktor minyak dan gas bumi (migas) untuk ikut mengelolanya. Selain PT Pertamina (Persero) yang sudah menyatakan minatnya kepada Inpex Corporation, PetroChina juga memiliki ketertarikan yang sama.

Vice President Human Resources and Services PetroChina Maryke P.Y. Pulunggono mengaku, jika ada peluang pihaknya bersedia mengelola Blok Masela bersama-sama dengan Inpex. “Kalau diajak menjadi mitra, kami mau,” kata dia di Jakarta, Jumat (24/6) lalu.

Menurut dia, PetroChina memang sedang gencar menambah blok baru yang ada di Indonesia. Alasannya, selain keinginan dari manajemen baru, PetroChina menganggap investasi hulu migas di Indonesia masih sangat menarik. (Baca: Perusahaan Migas Pergi, Itu Sesuatu Yang Normal)

Maryke mengatakan, saat ini perusahaannya masih mengevaluasi beberapa blok migas yang sedang melakukan proses farmout atau menjual hak kelolanya. Salah satunya adalah Blok B Laut Natuna Selatan milik ConocoPhillips. Namun, dia mengaku PetroChina terlambat mengikuti proses tersebut.

Sampai saat ini, Maryke belum mau menyebutkan identitas blok migas yang masuk dalam incaran PetroChina. Yang jelas, blok yang diminati adalah blok yang sudah berproduksi. “Tahun depan ada tambahan blok,” ujar dia.

Selain mencari blok baru, PetroChina tetap berkomitmen mengelola, bahkan memperpanjang pengelolaan, blok migas yang akan berakhir masa kontraknya. Salah satunya adalah Blok Tuban yang kontraknya akan berakhir tahun 2018. Menurut Maryke, PetroChina berminat mengelola blok tersebut pasca kontrak berakhir karena potensinya masih sangat bagus. (Baca: Pertamina Bidik Empat Blok Migas yang Akan Habis Kontraknya)

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi minyak Blok Tuban 4.009 barel per hari (bph), sedangkan lifting gas 1,9 juta kaki kubik (mmscfd). Namun, Blok Tuban merupakan Join Operating Body dengan PT Pertamina (Persero). Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PetroChina cuma memiliki hak kelola sebesar 25 persen di blok tersebut. Sisanya dimiliki Pertamina. 

Maryke menyatakan, PetroChina tengah menjajaki kemungkinan melanjutkan kerjasama pengelolaan Blok Tuban itu dengan Pertamina. Sebelumnya, Pertamina sudah menyampaikan surat permohonan untuk memperpanjang Blok Tuban kepada pemerintah. Bahkan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi ini menyiapkan sejumlah dana untuk mengelola blok itu pasca kontraknya berakhir. (Baca: Perpanjang Dua Kontrak Blok Migas, Pertamina Siapkan Rp 3,3 Triliun)

Pertamina memperkirakan nilai investasi yang dibutuhkan pasca kontrak berakhir sebesar US$ 163 juta. Saat kontrak berakhir, cadangan yang masih tersisa diperkirakan 12 juta barel minyak (MMBO) untuk minyak dan kondensat, sedangkan gas 112 miliar kaki kubik (bcf). Per 9 Februari lalu, blok yang berada di Jawa Timur ini masih memproduksi 4.261 barel minyak per hari (bph) dan gas sebanyak 4,69 mmscfd.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait