Pertamina Siap Jalan Terus Tanpa Total di Blok Mahakam

"Kalau Total tidak ikut, ya kami jalan terus," kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto
Anggita Rezki Amelia
23 Juni 2016, 20:20
Direktur Utama Pertamina, Dwi Sucipto
Arief Kamaludin|KATADATA
Direktur Utama Pertamina, Dwi Sucipto

PT Pertamina (Persero) tampaknya tidak terlalu menghiraukan apa keputusan Total E&P Indonesie setelah kontraknya di Blok Mahakam berakhir pada 2017. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi ini bahkan tidak mempermasalahkan, jika perusahaan asal Prancis itu tidak ikut bergabung mengelola blok migas di Kalimantan Timur ini.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan ada atau tidaknya Total E&P Indonesie, Pertamina akan tetap mengelola di Blok Mahakam. “Kalau Total tidak ikut, ya kami jalan terus,” kata dia di Gedung Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (23/6).

Sebelumnya, Dwi sempat mengatakan sampai saat ini proses diskusi mengenai participating interest atau hak pengelolaan Blok Mahakam masih terus dibahas bersama dengan Total. Pembahasan tersebut diharapkan selesai sebelum akhir Juni 2016. (Baca: Juni, Tenggat Waktu Total Tentukan Sikap di Blok Mahakam)

Sementara untuk persiapan pengambilalihan pengelolaan Blok Mahakam setelah 2017, Pertamina juga sudah membentuk tim transisi. Tim yang bernama Tim Pengambilalihan Pengelolaan Mahakam (TPPM) ini nantinya akan memiliki beberapa tugas. Mulai dari melengkapi data operasional Pertamina ketika mengelola Blok Mahakam, hingga menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Advertisement

Tidak hanya menyusun RKAP 2017 sampai 2018, TPPM juga menentukan rencana kerja tiga tahunan setelah Pertamina mengambil alih pengelolaan blok tersebut. Meski baru akan mengelola Blok Mahakam pada 2018, Dwi mengatakan, Pertamina akan membiayai investasi di blok itu mulai tahun depan. Tujuannya menjaga produksi Blok Mahakam tidak turun ketika dikelola oleh Pertamina.

Manajemen Pertamina sebelumnya memperkirakan total investasi untuk tiga tahun pertama mengelola Blok Mahakam sebesar US$ 75,3 juta. Rinciannya, pada tahun pertama kontrak US$ 1,3 juta, tahun kedua US$ 33,5 juta, dan tahun ketiga US$ 40,5 juta. Padahal, sebelumnya Pertamina pernah menyebut kebutuhan investasi Blok Mahakam sebesar US$ 2,5 miliar per tahun. (Baca: Pertamina Siap Danai Pengeboran 100 Sumur di Blok Mahakam)

Total E&P Indonesie juga pernah meminta kelonggaran waktu untuk memutuskan untuk tetap ikut mengelola Blok Mahakam atau tidak pada 2018. Vice President Corporate Communication HR and Finance Total E&P Indonesie Arividya Noviyanto mengatakan pihaknya masih mengkaji beberapa aspek sebelum mengambil keputusan.

Beberapa aspek itu antara lain bagi hasil dan ketentuan jatah gas dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) yang ada di dalam kontrak baru. Keduanya dikaitkan tren harga minyak. Kondisi harga minyak duniaa yang masih di bawah US$ 50 per barel saat ini, membuat pengembangan lapangan yang ada di blok tersebut dinilai kurang ekonomis. (Baca: Total Minta Kelonggaran Waktu Putuskan Blok Mahakam)

Kajian ini masih terus berjalan dan belum tentu bisa selesai dalam waktu dekat. Apalagi targetnya Total harus memberikan keputusan akhir bulan ini. Menurut Novi, dengan harga minyak yang masih rendah saat ini maka sangat sulit bagi Total untuk memutuskan nasib blok yang ada di Kalimantan Timur tersebut pada tahun ini.  

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait