Pelaku Migas Minta Pemerintah Percepat Proses Perpanjangan Kontrak

Anggita Rezki Amelia
10 Mei 2016, 18:13
Direktur IPA, Ronald Gunawan.
Arief Kamaludin|KATADATA
Direktur IPA, Ronald Gunawan.

Asosiasi Pelaku Industri Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Indonesian Petroleum Association/IPA) meminta pemerintah mempercepat proses perpanjangan kontrak suatu wilayah kerja. Hal ini perlu untuk mencegah penurunan produksi pada blok migas yang kontraknya akan berakhir.

Direktur IPA Ronald Gunawan mengatakan saat ini 60 persen wilayah kerja yang menjadi penyumbang produksi migas nasional akan berakhir kontraknya. Jika pemerintah memutuskan kontrak migas satu atau dua tahun sebelum kontrak berakhir dikhawatirkan bisa mempengaruhi produksi migas nasional. (Baca: Asosiasi Migas Berharap Insentif selama Harga Minyak Rendah)

IPA mencatat adanya penurunan produksi dan penemuan cadangan minyak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Untuk menahan penurunan laju produksi, IPA mengusulkan agar pemerintah sebaiknya menyelesaikan proses perpanjangan kontrak lima sampai sepuluh tahun sebelum kontrak berakhir.

"Kalau tidak, perusahaan migas akan susah merencanakan investasinya," ujarnya saat acara Focus Group Discussion (FGD) IPA di Hotel Dharmawangsa Jakarta, Selasa (10/2). (Baca: Investasi Migas Indonesia Tak Lagi Menarik)

Semakin cepat mendapat kepastian, kontraktor bisa mengantisipasi penurunan produksi. Apalagi saat ini mencari cadangan migas di Indonesia semakin sulit. Ronald mencontohkan, pada 1970-an, kontraktor hanya butuh lima tahun untuk menemukan cadangan sampai memulai produksi. Tapi 20 tahun kemudian, kontraktor bisa menghabiskan masa eksplorasi dan eksploitasi selama 10 tahun. 

Begitu pun saat memasuki era 2000-an, kontraktor migas butuh 15 tahun untuk melakukan eksplorasi dan pengembangan wilayah kerja migas. Padahal jangka waktu kontrak suatu blok migas hanya 30 tahun. "Misalnya Blok Senoro butuh 15 tahun untuk discovery sampai memproduksi gas pertama. Ini jadi tantangan kami," ujar dia. 

Tidak hanya itu, semakin lama volume cadangan yang ditemukan pun semakin kecil. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan minyak dalam negeri selama kuartal I tahun ini hanya sebesar 7.018 juta tangki barel (MMSTB). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7.305 MMSTB. (Baca: Awal 2016, Cadangan Migas Nasional Bertambah 580 Juta Barel)

Tidak hanya minyak, cadangan gas juga mengalami penurunan. Pada kuartal I-2015 cadangan gas tercatat sebesar 151 triliun standar kaki kubik (TSCF). Namun, pada kuartal I-2016, cadangannya hanya tinggal 148 TSCF. “Cadangan migas memang turun, karena belum ada temuan-temuan besar,” kata Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja.

Wirat mengatakan terakhir temuan cadangan minyak terbesar yang paling terakhir di Indonesia adalah Blok Cepu. Cadangan ini pun ditemukan 15 tahun lalu. Padahal menurut para ahli geologi, Indonesia memiliki banyak cadangan migas besar yang belum dieksplorasi.

Minimnya penemuan sumber minyak dan gas bumi (migas) baru di dalam negeri, membuat cadangan sumber daya alam tersebut terus menurun. Mengatasi hal ini, pemerintah sedang mengkaji pemberian insentif kepada kontraktor, untuk memacu kegiatan eksplorasi.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait