Pertamina Incar Blok Tengah di Kalimantan Timur

Posisi Blok Tengah berdekatan dengan Blok Mahakam, jadi pengelolaannya bisa lebih mudah dan efisien
Arnold Sirait
12 Februari 2016, 11:55
Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Setelah mendapatkan Blok Mahakam, PT Pertamina (Persero) kini berniat mengincar Blok Tengah yang berada di Kalimantan Timur. Blok migas yang kini dipegang oleh Total E&P Indonesie ini ini akan habis kontraknya pada 2018.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan lokasi Blok Tengah dan Blok Mahakam berdekatan. Hal ini akan memudahkan Pertamina mengelola kedua blok migas tersebut. "Kalau menurut saya akan efisien bareng Mahakam. Kalau sendiri malah tidak ekonomis," kata dia kepada Katadata di Bali, Kamis (11/2).

Sebenarnya saat ini Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi sudah memiliki saham di Blok Tengah. Porsinya cukup besar, mencapai 50 persen. Meski memiliki separuh saham, Pertamina bukanlah operator di blok tersebut, melainkan mitranya Total E&P Indonesie. Padahal, Total E&P Indonesie hanya memiliki 22,5 persen. Sisanya dipegang oleh Inpex Corporation.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Blok Tengah masih memiliki cadangan minyak sebesar 1 juta barel (MMTSB). Sedangkan cadangan gasnya sebesar 38,1 miliar kaki kubik (BSCF). (Baca: Nasib Enam Blok Migas Akan Ditentukan Tahun Ini)

Mengenai Blok Mahakam, saat ini pihak Pertamina masih berunding dengan Total dan Inpex. Syamsu mengatakan Pertamina masih menunggu sikap Total apakah mau mengambil 30 persen saham Blok Mahakam atau tidak. Mengingat pemerintah mengizinkan Pertamina menggandeng kedua kontrak tersebut setelah kontraknya berakhir 31 Desember 2017.

Untuk menilai harga 30 persen saham itu, Pertamina juga akan melakukan valuasi aset di Blok Mahakam. Valuasi aset ini nantinya akan menggunakan konsultan independen yang bersertifikat dan terpercaya. Ini dilakukan agar penilaian aset Mahakam berjalan adil. Apalagi hasil valuasi aset ini akan digunakan sebagai penentu harga saham yang akan dinegosiasikan kepada Total dan Inpex.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sebenarnya sudah menghitung nilai aset Blok Mahakam. Perhitungan ini bahkan dilakukan oleh pihak ketiga, yakni HIS Vantage dan Petropro. Kedua valuator ini hanya menghitung aset di atas permukaan, tidak termasuk cadangan migas yang tersisa di blok migas tersebut.

Hasil perhitungannya, aset Blok Mahakam mencapai US$ 4,8 miliar pada akhir 2015. Nilainya akan kembali menyusut dalam dua tahun sebesar US$ 1,3 miliar. Alhasil, pada saat kontrak dengan Total E&P Indonesie berakhir pada 31 Desember 2017, asetnya diperkirakan hanya tersisa US$ 3,5 miliar. Jika mengacu valuasi aset per tahun 2017, maka nilai 30 persen saham Blok Mahakam sebesar US$ 1,03 miliar atau sekitar Rp 14,3 triliun kepada Pertamina. (Baca: Pertamina Ingin Masuk Blok Sanga-Sanga Sebelum Kontrak Berakhir)

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait