Kementerian BUMN Sewa Konsultan Independen Kaji Sinergi Pertagas-PGN

Konsultan independen ini akan mengkaji skema yang terbaik untuk sinergi PGN-Pertagas. Supaya tidak ada lagi tumpang tindih pembangunan infrastruktur.
Arnold Sirait
9 Februari 2016, 20:58
Pekerja gas (Pertagas)
Katadata | Arief Kamaludin

KATADATA -  Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan menyewa konsultan independen untuk mengkaji bentuk sinergi yang tepat untuk PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan PT Pertamina Gas. Sinergi ini penting agar tidak ada tumpang tindih investasi infrastruktur gas di Indonesia.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah mengatakan pemerintah tidak ingin dua infrastruktur gas dibangun dalam satu wilayah. Selama ini Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertamina Gas (Pertagas) sangat sulit bersinergi, bahkan berjalan sendiri-sendiri. Dalam investasi infrastruktur, Pertagas seringkali membangun pipa di wilayah yang sudah ada infrastruktur PGN. Begitupun sebaliknya yang dilakukan PGN. (Baca: Jokowi Minta Kementerian BUMN Sinergikan PGN dan Pertagas)

Ini berdampak pada inefiensi dan bertentangan dengan aturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Padahal, penyerapan gas untuk dalam negeri masih sulit, karena infrastrukturnya terbatas. “Kami sedang meminta tolong konsultan untuk memetakan semuanya. Saya maunya tidak ada tumpang tindih investasi,” kata dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/2).

Untuk membahas bentuk sinergi tersebut, Kementerian BUMN akan mempertemukan manajemen PGN dan Pertamina selaku induk usaha Pertagas. Sambil menunggu pertemuan dan hasil kajian dari konsultan independen, pemerintah sudah memberi arahan kepada kedua perusahaan agar tidak ada lagi kompetisi di jalur pipa transmisi. Ini untuk mencegah adanya tumpang tindih pembangunan infrastruktur gas. (Baca: Sinergi PGN-Pertagas, Pemerintah akan Bentuk Komite Bersama)

Dalam bisnis gas bumi memang dikenal dua jenis pipa yakni pipa transmisi dan pipa distribusi. Pipa transmisi adalah pipa untuk mengangkut gas bumi dari sumber pasokan atau lapangan-lapangan gas bumi ke satu atau lebih pusat distribusi. Sementara pipa distribusi adalah pipa yang mengalirkan gas bumi dari suatu pipa transmisi ke pelanggan.

Saat ini, PGN memiliki pipa sepanjang 6.800 kilometer dan Pertagas sekitar 2.000 kilometer. Sementara itu, berdasarkan volume distribusi gas, PGN menyalurkan 700 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dan Pertagas hanya 200 mmscfd

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno sebelumnya menginginkan agar PGN dan Pertagas bisa menggunakan fasilitas pipa bersama atau open access tahun ini. Selanjutnya ada opsi untuk melakukan penggabungan (merger) dan akuisisi. (Baca: Setelah Sinergi, PGN-Pertagas Bisa Merger atau Akuisisi)

Namun, opsi tersebut ditolak oleh Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya. Alasannya proses merger akan membutuhkan waktu yang lama. Dia juga tidak mau Pertagas melebur ke PGN. Dia mengaku belanja modal yang dikeluarkan Pertamina untuk pembangunan infrastruktur gas tiga kali lebih banyak dibandingkan PGN selama 10 tahun terakhir.

Menurut dia opsi yang tepat untuk mensinergikan Pertagas-PGN adalah pembentukan komite bersama atau joint committee. Opsi ini pun sudah diusulkan kepada Menteri BUMN. Di dalam joint committee tersebut akan ada perwakilan dari Pertagas, PGN dan Kementerian BUMN. Badan ini dapat mensinergikan aset Pertagas dan PGN, sehingga dapat dimanfaatkan satu sama lain. Dengan begitu diharapkan dapat menghilangkan inefisiensi dan tumpang tindih pembangunan infrastruktur.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait