Tak Lengkap, Pemerintah Kembalikan Proposal Proyek IDD Chevron

Proposal rencana pengembangan Proyek IDD Chevron kurang lengkap. Seharusnya setebal 200 halaman dan memuat studi geologis, seismik dan keekonomian proyek.
Arnold Sirait
2 Februari 2016, 13:45
tambang minyak lepas pantai
KATADATA
Tambang minyak lepas pantai.

KATADATA - Chevron Indonesia masih harus bersabar untuk mengembangkan Proyek Laut Dalam alias Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makassar. Alih-alih memberikan persetujuan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) malah mengembalikan proposal rencana pengembangan (PoD) Proyek IDD yang disorongkan Chevron. Pasalnya, proposal tersebut dinilai tidak memenuhi standar penyusunan POD. 

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan, proposal POD lazimnya setebal sekitar 200 halaman yang harus memuat studi geologis, seismik dan keekonomian sebuah proyek pengembangan. Sementara tim kajian SKK Migas dan pemerintah menilai masih terdapat sejumlah kekurangan dalam proposal yang diajukan Chevron.

Sayangnya, Djoko enggan menyebut bagian apa saja yang masih belum lengkap tersebut. Sebaliknya, dia menduga Chevron membuat proposal tersebut dalam keadaan terburu-buru. “Karena buru-buru jadi tipis materinya. PoD kan seharusnya lengkap materinya. Akhirnya kami balikkan proposalnya untuk dilengkapi,” kata dia di Jakarta, beberapa hari lalu.

(Baca: SKK Migas Targetkan Proposal IDD Chevron Rampung Bulan Depan)

Djoko juga enggan mengomentari perubahan apa saja yang disampaikan Chevron dalam revisi proposal tersebut. Yang jelas, Chevron tetap berkomitmen melanjutkan Proyek IDD meski harga minyak dunia masih rendah. “Mereka tidak bilang akan menunda proyek. Sampai sekarang tetap berkomitmen,” ujarnya.

Deputi Pengendalian Perencanaan SKK Migas Gunawan Sutadiwiria juga membenarkan bahwa proposal Proyek IDD Chevron dikembalikan pemerintah. Pasalnya, proposal itu belum sesuai dengan Pedoman Tata Kerja Rencana Pengembangan Lapangan (PTK-072/BP 00000/2010/S0). “Kami minta sesegera mereka melengkapinya,” kata dia kepada Katadata, Selasa (2/2). 

(Baca: Tahun Ini 13 Proyek Migas Mulai Beroperasi)

Sementara itu, manajemen Chevron masih belum berkomentar mengenai hal tersebut. Vice President Policy Government and Public Affair Chevron Indonesia Yanto Sianipar tidak membalas pertanyaan Katadata melalui layanan pesan aplikasi Whatsapp, Selasa (2/2). 

Sekadar informasi, Chevron mengajukan revisi proposal PoD Proyek IDD kepada SKK Migas pada 31 Desember 2015. Dalam revisi PoD tersebut, ada beberapa perubahan dari PoD pertama. Antara lain jadwal beroperasi (onstream) beberapa proyek. Untuk proyek Lapangan Gendalo dijadwalkan baru beroperasi pada 2022 dan Lapangan Gehem pada 2023. Kedua proyek ini semula dijadwalkan beroperasi pada 2020. 

Nilai investasi yang diajukan Chevron juga berubah, yakni lebih rendah dari proposal sebelumnya. Dalam proposal yang baru, Chevron mengajukan biaya investasi yang akan dikeluarkan untuk Proyek IDD di Selat Makassar sebesar US$ 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun. Sedangkan pada PoD pertama yang disetujui tahun 2008, Chevron mengajukan nilai investasi sebesar US$ 6,9 miliar. Penambahan nilai investasi itu setelah melalui tahap Front-End Engineering Design (FEED) pada 2013 lantaran tren harga minyak yang saat itu naik mencapai US$ 100 per barel.

Chevron juga menginginkan perpanjangan kontrak untuk wilayah kerja Makassar Strait. Kontrak wilayah kerja ini seharusnya berakhir pada 2020. Namun, Chevron menginginkan masa kontraknya diperpanjang dan sama dengan proyek IDD lain seperti Ganal, Rapak, dan Muara Bakau yang habis tahun 2028. Gunawan mengakui, hal tersebut masuk dalam pembahasan dengan Chevron. (Baca: 4 Megaproyek Migas Sumbang Investasi Tinggi)

Adapun jumlah produksi gas dari proyek IDD itu sebesar 1.270 juta kaki kubik (mmscfd). Produksi tersebut bakal disumbang dari Lapangan Bangka sebesar 150 mmscfd,  Gehem Hub sebesar 420 mmscfd, dan Gendalo Hub sebesar 700 mmscfd. Selain gas, ada juga kondensat dari Gehem sebanyak 25.000 barel per hari (bph) dan Gendalo 25.000 bph. 

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait