Investor Jepang Batal Danai Pengembangan Kilang Balikpapan

Pertamina batal menggandeng investor Jepang karena nilai investasinya sangat besar dan waktu pengembangan kilang terlalu lama.
Arnold Sirait
20 Januari 2016, 18:11
Kilang Minyak
KATADATA

KATADATA - JX Nippon Oil & Energi Corporation berpotensi batal berinvestasi kilang minyak di Indonesia. Padahal, investor asal Jepang ini semula diplot menjadi mitra PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan kilang minyak di Balikpapan.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, kegagalan kerjasama tersebut karena tidak adanya kesepakatan mengenai besaran investasi. Sebab, nilai investasi yang ditawarkan JX Nippon terlalu besar. Sedangkan Pertamina menghitung nilai investasi untuk pengembangan kilang tersebut sekitar US$ 5 miliar atau Rp 70 triliun. “Mereka minta 20 persen di atas perkiraan kami,” kata dia di Jakarta, Rabu (20/1).

(Baca : Pemerintah Siapkan Surat Penugasan Pertamina Bangun Kilang)

Selain nilai investasi yang terlalu besar, Dwi menganggap waktu penyelesaian proyek kilang tersebut terlalu lama. Pertamina menargetkan masa pembangunannya sekitar 2018 hingga 2022. Sementara JX Nippon meminta tambahan waktu sekitar dua sampai tiga tahun lagi. Permintaan ini tidak bisa dipenuhi karena Presiden Joko Widodo menginginkan proyek tersebut cepat selesai.

Advertisement

Meski JX Nippon batal menjadi mitra Pertamina, Dwi menjamin Pertamina akan melanjutkan proyek pengembangan kilang Balikpapan itu dengan dananya sendiri. Proses pembangunannya pun dilakukan bertahap.

Pada tahap pertama, Pertamina akan mengupayakan peningkatan kapasitas kilang dari 260 ribu barel menjadi 300 ribu barel per hari. Tahapan ini membutuhkan dana sekitar US$ 2,6 miliar.

Tahap kedua, Pertamina akan secara bertahap meningkatkan mutu kualitas produk hasil olahan kilang tersebut. Kebutuhan pendanaannya sekitar US$ 2,6 miliar. “Kualitas crude-nya (minyak mentah) di Euro dua dulu. Nanti secara paralel kilang Balikpapan akan terus ditingkatkan menjadi kualitas Euro empat yang diwajibkan negara pada tahun 2025 untuk menciptakan energi bersih,” ujar Dwi.

(Baca : Perpres Kilang Terbit, Pemerintah Janjikan Insentif dan Jaminan)

Selain di Balikpapan, Pertamina juga memiliki proyek pengembangan kilang (RDMP) lainnya seperti di Dumai, Cilacap dan Balongan. Untuk pengembangan tiga kilang tersebut, Pertamina menggandeng Saudi Aramco. Melalui pengembangan kilang tersebut akan meningkatkan kapasitas kilang dari 850 ribu barel menjadi sekitar 1,5 juta barel minyak per hari dalam lima tahun ke depan.

Selanjutnya, dapat mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat ini konsumsi BBM di Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Sementara produksi kilang di Indonesia hanya 800.000 bph. 

(Baca : Impor BBM Bisa Teratasi Dengan Menghilangkan Pemburu Rente)

Dengan mengurangi impor tersebut diharapkan dapat menutup celah mafia minyak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said pernah menyatakan, selama ini rantai pasokan BBM dikuasai oleh jaringan mafia. Semakin banyak impor BBM untuk kebutuhan dalam negeri maka celah mafia bermain akan semakin besar. Makanya, selama ini upaya pemerintah membangun kilang minyak baru ataupun menambah kapasitas kilang yang ada selalu terhambat. "Kami akan batasi ruang geraknya (mafia). Karena sektor ini pelan-pelan kami bereskan dari cengkraman mereka," ujar dia. 

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait