Pemerintah Bangun Infrastruktur Elpiji di Papua

Pembangunan tiga depo elpiji tersebut agar kawasan timur Indonesia dapat menikmati elpiji bersubsidi.
Arnold Sirait
12 Januari 2016, 16:27
LPG Elpiji Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Pemerintah menyatakan akan membangun tiga depo elpiji baru di kawasan timur Indonesia. Lelang proyek infrastruktur gas elpiji bersubsidi tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat, sehingga pembangunannya bisa terealisasi tahun ini.

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan pembangunan depo pengisian gas elpiji ini merupakan upaya pemerintah memperluas jaringan distribusi. Sehingga kawasan timur Indonesia juga bisa menikmati elpiji bersubsidi.

Ketiga depo tersebut akan dibangun di daerah Maluku tepatnya Wayame, Jayapura Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Agar konversi minyak tanah ke elpiji terus diperluas ke timur,” kata dia di Kantornya, Senin (11/1) malam. (Baca: Pembangunan Infrastruktur Gas Butuh Investasi Rp 270 Triliun)

Selama ini alokasi gas elpiji tiga kilogram (kg) lebih banyak untuk kawasan Sumatera dan Jawa. Sebaran elpiji bersubsidi belum bisa menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 pemerintah mengalokasikan elpiji bersubsidi sekitar 5,7 juta metrik ton 29 provinsi.

Advertisement

Sementara lima provinsi yakni Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua dan Papua Barat tidak mendapatkan alokasi elpiji bersubsidi. Alasannya  belum ada depo sebagai tempat pengisian bahan bakar gas elpiji. Padahal program konversi ini sudah dilaksanakan sejak 2007. (Baca: Pemerintah Kaji Penyaluran Elpiji 3 Kilogram Menggunakan Sidik Jari)

Direktur Pembinaan Hilir Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Setyo Rini Tri Hutami mengatakan pembangunan tiga depo pengisian elpiji di Timur Indonesia ini diharapkan dapat selesai pada 2019. Untuk mengejar target tersebut, kementerian akan melelang proyek ini pada April 2016.

Kementerian ESDM kata dia juga sudah menyiapkan dana sebesar Rp 100 miliar untuk proyek tersebut dalam APBN 2016. Namun hingga selesai proyek, total anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 600 miliar. “Multiyears dalam tiga tahun,” kata dia kepada Katadata, Selasa (12/1). (Baca: Kehadiran Bright Gas Pertamina Diklaim Menghemat Subsidi Elpiji Rp 5,2 Triliun)

Meski akan membutuhkan waktu tiga tahun, pemerintah berharap tahun depan depo tersebut sudah bisa digunakan secara bertahap. Sambil menunggu depo tersebut dapat digunakan, pemerintah saat ini sedang melakukan pendataan untuk penerima paket perdana. Sehingga pada 2017 nanti paket tersebut sudah bisa dibagikan.

Menurut Wirat dibandingkan dengan bahan bakar lain, penggunaan elpiji lebih menguntungkan bagi masyarakat. Secara teori, pemakaian satu liter minyak tanah, setara dengan pemakaian 0,57 kilogram elpiji. Dengan menghitung berdasarkan harga keekonomian minyak tanah dan elpiji, subsidi yang diberikan untuk pemakaian 0,57 kg elpiji akan lebih kecil daripada subsidi untuk satu liter minyak tanah.

Manfaat lain dari penggunaan LPG adalah mengurangi kerawanan penyalahgunaan minyak tanah, mengurangi polusi udara di rumah atau dapur, menghemat waktu memasak dan perawatan alat memasak. Dengan begitu dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (Baca: Turunkan Harga Elpiji, Pertamina Pindahkan Storage dari Kapal ke Darat)

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait