Pemerintah Gandeng Belanda Didik 10.000 Tenaga Profesional Panas Bumi

Untuk mengejar target RPJMN mengembangkan panas bumi 7,5 GW butuh 10.000 pekerja profesional.
Image title
7 Februari 2019, 15:26
Geothermal Kamojang
Katadata
ilustrasi.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerja sama dengan pemerintah Belanda memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor energi panas bumi. Bentuk kerja samanya yaitu pembentukan program studi dan pelatihan energi panas bumi untuk bagi masyarakat Indonesia.

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan tenaga kerja ahli sebanyak 10.000 orang untuk memanfaatkan energi panas bumi. Apalagi, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), target pemanfaatan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) sebesar 7,5 Gigawatt (GW).

"Kami masih kekurangan ahlinya. Kalau bicara universitas yang punya bidang terkait geothermal juga belum banyak," kata Bambang, di Jakarta, Kamis (7/2).

Upaya lain untuk mengembangkan panas bumi adalah pemberian insentif  ketika eksplorasi ini untuk menekan biaya investasi. Insentif ini diperlukan karena eksplorasi panas bumi membutuhkan dana investasi dan risiko yang tinggi.

Advertisement

Dengan insentif itu, harga jual listrik ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Persero) bisa menutup biaya investasi. "Untuk bisa berjalan, pertama harus ada insentif untuk eksplorasinya. Karena keuntungan untuk mengembangkan panas bumi tidak cukup," kata Bambang.

Adapun, Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang memiliki potensi panas bumi. Namun, hingga saat ini dari 28 GW potensi panas bumi pemanfaatannya baru mencapai 2 GW, atau 7% dari potensi yang ada.

(Baca: Potensi Energi Terbarukan Indonesia, Kedua Tertinggi di Dunia)

Sedangkan, negara seperti Filipina, Italia, dan Selandia Baru sudah memanfaatkan energi panas bumi mencapai 30%."Berarti sekarang harus menyusun rencana bagaimana memanfaatkan panas bumi ini sampai 30%," kata dia.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait