Pemerintah Tawarkan Blok East Natuna ke Mubadala

Dalam pertemuan itu, Mubadala, menurut Arcandra merespon dengan bagus tawaran tersebut. "Minggu depan saya akan ketemu dengan petingginya," kata dia.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
2 November 2017, 11:36
Rig
Katadata

Kementerian ESDM menawarkan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UAE), Mubadala Petroleum mengelola Blok East Natuna. Hal itu disampaikan ketika Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar  bertemu Undersecretary, Ministry of Energy, UAE, H.E. Matar Hamed Al Neyadi, Kamis (26/10) lalu.

Dalam pertemuan itu, Mubadala, menurut Arcandra merespon dengan bagus tawaran tersebut. "Minggu depan saya akan ketemu dengan petingginya," kata dia di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu malam (1/11).

Ada beberapa alasan pemerintah menawarkan Mubadala untuk masuk blok East Natuna. Salah satunya, Mubadala memiliki teknologi yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk memisahkan kadar karbon dioksida (Co2) yang ada di Blok East Natuna. 

Adapun teknologi tersebut berasal dari perusahaan yang terafiliasi dengan Mubadala, yakni Masdar. Masdar merupakan anak perusahaan dari Mubadala Investment Company, perusahaan investasi global asal Abu Dhabi. "Mungkin bisa sinergi dengan kami," kata Arcandra.

Seperti diketahui, setelah ExxonMobil memutuskan tidak melanjutkan investasi di Blok East Natuna, PT Pertamina (Persero) saat ini menjadi perusahaan yang akan mengerjakan proyek itu. Namun, hingga kini belum ada perkembangan dari proyek Blok East Natuna.

Melihat sejarahnya, blok ini pertama kali dieksplorasi oleh Agip pada 1973. Meski sudah dieksplorasi sejak 44 tahun lalu, Blok East Natuna hingga kini belum memiliki kontrak. 

Volume gas di tempat yang ada di Blok East Natuna (OGIP) mencapai 222 triliun kaki kubik (tcf). Tapi blok tersebut memilik kendala yakni kandungan karbondioksida (CO2) yang tinggi hampir mencapai 72 persen. (Baca: Cerita di Balik Mundurnya ExxonMobil di Blok East Natuna)

Meski memiliki kandungan CO2 yang cukup besar, cadangan gas yang ada di Blok East Natuna masih bisa mencapai 46 tcf. Ini lebih besar dibandingkan Blok Masela yang hanya memiliki cadangan 10,73 tcf. 

Video Pilihan

Artikel Terkait