PetroChina Ajukan Minat Kelola Blok East Kalimantan Pakai Gross Split

“PetroChina sudah kirim surat berminat. Mereka siap mendukung kebijakan pemerintah dalam implementasi gross split,"
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
27 Oktober 2017, 21:36
Rig
Katadata

PetroChina siap menjadi perusahaan minyak dan gas bumi asing pertama yang akan menerapkan skema gross split. Perusahaan asal Tiongkok itu sudah mengajukan minat mengelola Blok East Kalimantan dan Attaka di Kalimantan Timur.

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Tunggal mengatakan sudah mengetahui adanya surat dari PetroChina yang berminat mengelola blok yang ditolak PT Pertamina (Persero). Bahkan mereka tidak mempersalahkan skema kontrak yang akan diterapkan pemerintah.

Artinya, PetroChina juga siap mengelola Blok Attaka dan East Kalimantan menggunakan skema kontrak gross split sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 tahun 2017. “PetroChina sudah kirim surat berminat. Mereka siap mendukung kebijakan pemerintah dalam implementasi gross split," kata Tunggal kepada Katadata, Jumat (27/10).

Namun, sampai saat ini belum ada keputusan apakah dua blok tersebut akan diserahkan kepada perusahaan asal Tiongkok itu. Alasannya, keputusan itu merupakan keputusan Menteri ESDM.

Blok East Kalimantan dan Attaka sebelumnya ditugaskan kepada  PT Pertamina (Persero) ketika kontraknya berakhir di 2018 nanti. Ini karena Chevron Indonesia sebagai operator saat ini menyatakan tidak berniat memperpanjang kontrak tersebut.

Namun, berdasarkan hasil kajian, Pertamina menganggap Blok East Kalimantan tidak ekonomis. Penyebabnya adalah kewajiban dana pemulihan tambang (Abandonment Site Restoration/ASR). Alhasil mereka  mengembalikan Blok East Kalimantan dan Attaka kepada Pemerintah karena satu struktur.

Setelah menerima sikap resmi Pertamina, pemerintah awalnya berencana untuk melelang sekaligus  Blok East Kalimantan dan Blok Attaka. Ini disebabkan dua blok tersebut berada di satu struktur yang sama.  (Baca: Pertamina Batal Kelola Blok East Kalimantan)

Saat ini Blok East Kalimantan masih dikelola Chevron Indonesia. Kontrak perusahaan asal Amerika Serikat itu akan berakhir 24 Oktober 2018. Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor pernah mengatakan tidak akan memperpanjang blok itu dan akan mengembalikan seluruh asetnya ke pemerintah.

Blok East Kalimantan termasuk 10 penyumbang produksi minyak bumi. Selama semester I tahun 2017, blok yang dioperatori oleh Chevon ini memproduksi minyak blok tersebut mencapai 18,2 ribu barel per hari (bph). Sedangkan target dalam rencana kerja dan anggaran adalah 18,5 ribu bph.

Video Pilihan

Artikel Terkait