Pemerintah Kaji Teknologi Shell untuk Tekan Biaya Pemulihan Tambang

"Kami intens bicara itu, bagaimana cara penggunaan teknologi tersebut di Indonesia," kata Arcandra.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
9 Oktober 2017, 12:04
Both Shell di sebuah p[ameran di Jakarta
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji pemanfaatan teknologi yang kini sedang dikembangkan Shell. Teknologi itu  diklaim mampu menekan biaya pemulihan operasi tambang (Abandonment Site Restoration/ASR) di blok minyak dan gas bumi (migas).

Teknologi untuk ASR ini menjadi topik pembicaraan antara Kementerian ESDM dan pihak Shell, saat Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar melakukan kunjungan kerja ke Eropa September lalu. Dalam kesempatan itu, Arcandra juga mengunjungi kantor pusat Shell di Belanda.

Dalam pertemuan itu, Shell menunjukkan teknologi plug and abandonment - teknologi untuk menutup sumur pada kegiatan ASR- yang berbiaya murah. "Kami intens bicara itu, bagaimana cara  penggunaan teknologi tersebut di Indonesia," kata dia di Kementerian ESDM pekan lalu.

Penggunaan teknologi ASR yang murah ini memang penting bagi Indonesia. Apalagi ada beberapa blok yang memiliki biaya ASR besar seperti Blok East Kalimantan. Blok ini memiliki ASR yang besar karena memiliki banyak anjungan (platform) di lepas pantai.  

Akibat permasalahan ASR ini, PT Pertamina (Persero) juga membatalkan rencana pengambilalihan Blok East Kalimantan dari Chevron. Padahal pemerintah sudah menugaskan perusahaan pelat merah itu mengelola blok tersebut setelah kontrak berakhir 2018.

Selain East Kalimantan, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang juga memiliki jumlah anjungan lepas pantai yang banyak.  "Teknologi   ini mungkin bisa digunakan dan  bisa mereduksi cost ASR, juga untuk lapangan lain," kata Arcandra.

Video Pilihan

Artikel Terkait